Rabu, 17 Februari 2016

Berhenti Sejenak Berdagang untuk Solat (Tukang Rujak)


Tukang Rujak Rajin Solat
 

Ketika mendengar suara azan, saya langsung berhenti dan menghampiri masjid terdekat. Cuaca saat itu sangat panas padahal sudah waktu ashar, ditambah dengan sariawan di bibir yang tak kunjung sembuh. Padahal udah diobatin sama obat tetes biru itu. Kondisi ini harus disyukuri juga, ketika sariawan kita akan sedikit ngomongin orang.


Saya berencana untuk membeli jus yang kandungan vitamin C nya cukup tinggi. Tujuannya agar sariawan bisa cepat sembuh. Pengobatan sariawan tidak bisa hanya dari luar, tapi harus dari dalam juga. Selanjutnya, saya akan konsultasi dengan psikolog.

Di belakang saya ada pria juga yang bergegas menuju masjid. Dia membawa buah-buahan di belakang jok motornya. Tidak seperti tukang buah lain yang yang menggunakan becak motor, dia hanya menjual buahnya dalam jumlah sedikit. Saya tak ingin beli karena pernah diare ketika makan rujak di pinggir jalan, apalagi melihat mereka memotong buahnya tidak memakai sarung tangan plastik. Tangan mereka kan banyak memegang benda kotor, seperti pisau, baju, atau uang
upil.

Setelah saya menyelesaikan solat, entah kenapa yang tadinya ingin beli jus, jadi pengen beli rujak yang ada di depan mata. Air liur pun menetes bagaikan gerimis di siang bolong. Lupa tuh, yang namanya prinsip makan-makanan bersih. Apalagi melihat si penjual yang panampilannya sederhana, dan sepertinya rajin solat. Pikirku, yah.. anggap aja untuk sekedar berbagi rezeki.

Saya lihat si bapak itu, memakai peci putih, jaket kebesaran, celana diatas lutut, dan sendal jepit. Rambutnya sebagian sudah beruban dan kerutan di wajahnya pun sudah banyak. Tapi si bapak itu murah senyum, suaranya pun lembut.

"Pak Saya pesan yah... diplastik aja"

"Iya Dek, pakai apa aja?"

"Melon dan Semangka aja Pak.."

"Si Bapak pun memotong-motong melonnya menjadi bagian kecil-kecil."

Untungnya saya lihat, si bapak memotong buahnya menggunakan sarung
tinjutangan plastik.

Namun, saya bergumam dalam hati, 'Kecil sekali porsi melonnya tidak seperti penjual rujak yang lain'

Tapi anehnya Si Bapak itu seperti mendengar apa yang diucapkan hati saya.

"Ini harganya se-ribuan Dek, kalau yang lain kan biasanya dua-ribuan"

"Oh, kalau gitu tambahin melonnya satu lagi Pak. Oh iya, maksud saya tadi bukan semangka, tapi pepaya yah... Pak."

Setelah memotong melonnya, dia mengambil semangka dan memotongnya. Saya mau tegur dia, eh terlanjur dipotong semangkanya. Udah lah, saya ikhlasin aja,.

"Pak, Pepayanya satu yah..."

"Iya Dek..."

Pepayanya pun dipotong. Selagi proses pemotongan, saya sekedar basa-basi bilang,

"Wah Pak panas yah... cuacanya hari ini..."

Si Bapak pun hanya mengangguk-angguk.

Ketika saya melihat ke arah jalan. Eh ternyata si Bapak malah nambahin buah nanas ke plastiknya. Hahaha... Saya tidak mengerti apakah karena suara saya kecil, atau bapaknya kurang dengar. Emang sih, sekilas nanas dan panas itu hampir sama hehe..

Eh ketika saya asyik makan rujak dipinggir masjid, ada 2-3 orang yang mengikuti jejak saya untuk beli rujak juga. 

Intinya sih, dengan kita meluangkan waktu solat sekitar 5 menit itu tidak akan mengurangi jumlah rezeki kita, justru bisa menambah rezeki kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar