Minggu, 28 Februari 2016

Asyiknya Wisata ke Danau Toba, Samosir, dan Air Terjun Sipiso-piso



danau toba


Hal yang pertama kita lakukan sebelum berangkat touring adalah membuat perencanaan perjalanan 
Berikut hasil diskusinya

Planning


Hari ke-1
05.30-Brangkat ke kostan Jon
06.00-Berangkat dari kostan jon
07.30-Perbaungan (pakam) sarapan
10.00-Siantar isi bensin, istirahat (beli makan)
12.00-Prapat(naik Fery)
13.00 samosir (main ke sigale-gale, ziarah, museum)
15.00-Menara tele, jalan pamulutan (isi bensin)
18.00-Silalahi (cari penginapan) makan malam

Hari ke-2
08.00-Berangkat (makan) isi bensin
10.00-Sipiso-piso (makan)
13.00-Brastagi (ishoma), bukit gundaling, solat di masjid raya
14.00-Pulang ke Medan

Perlengkapan yang harus dibawa, pakaian, handuk, perlatan mandi, sandal jepit, plastic besar, jas hujan, bekal makanan dan obat-obatan.



Perjalanan hari Pertama (kuning) dan Hari Kedua (hitam)

Hari Pertama: Danau Toba dan Pulau Samosir

5:00 Saya bangun.  
Tidur saya semalam tidak nyenyak, karena saya takut kesiangan, atau saking exited-nya bakalan pergi jalan-jalan. Saya siap-siap solat dan memastikan lagi barang-barang yang akan dibawa. Jon sudah whatsapp pukul 5:19. “Syam geus hudang can?” Artinya udah bangun belum? Saya pun menjawab bahwa saya sudah bangun dan setelah solat subuh akan berangkat. 

Perjalanan ke kostan jon sekitar 15 menit dari jalan krakatau ke jalan islamiyah, kemudian kami bertemu dengan Rasyid dan Bang Selan di pom bensin stelah fly over amplas. Kita isi bensin 20 rb pertamax. Mereka menggunakan mario 125. Sedangkan saya dengan jon menggunakan supri x 125. 

07:00 Kita sarapan di jalan Serdang no 138 kecamatan perbaungan di depan toko busana. Kita sarapan dengan nasi gurih dan lontong. Total kami membayar 32 rb.



Sarapan di jalan serdang

Kita ngobrol tentang penggunaan kacamata Bang Selan yang trendy, dia terpaksa beli karena untuk melindungi matanya, helmnya sudah disolatif sehingga kacanya tidak bisa menutupi wajahnya lagi. Perlindungan mata sangat penting saat touring agar debu-debu sepanjang perjalanan tidak merusak mata kita. Sedangkan saya pun disindir karena menggunakan sepatu pantofel untuk touring, “sam elu mau nyeles atau touring?” kata mereka. 

Peralatan yang paling lengkap adalah rasyid, helm full face mengkilat mpede milik dia kece banget. Dengan jacket eijer berwarna jingga yang terang, sepatunya pun pas begitu pula dengan si jon yang memiliki peralatan yang lengkap. Kita membahas mengenai helm dan menurut kita, belilah helm yang bagus tapi sulit untuk dijual kembali, agar tidak hilang saat parkir motor. Jangan pula berlebihan dengan menggunakan helm astronot kecuali tujuan kita touring antar planet. (kok saya jadi ngomongin helm..)

09:10-09:30 kita sampai siantar dan isi bensin dengan 21 rb pertamax. Perjalanan sangat cepat karena jalurnya bebas hambatan dan jalannya bagus. Bahkan si Supri X dan Mario bisa mencapai kecepatan 100-110 km/jam. Kita saling susul-menyusul dan sikut-menyikut. Jon fokus ngendarain motor saya fokus menjatuhkan lawan. Loh kok ini jadi kayak main Road Rash PS 1 gini...

10:45 kita sampai di balai kementrian kehutanan. Disini tempat dulu si Jon pernah singgah bersama teman-temannya di Lonsum. Jon sangat senang menikmati masa-masa keberadaanya disini, dia seperti mengumpuli keping-keping masa lalunya, mungkin dia ingat waktu dulu pernah nari india ala bolywood karena disini banyak sekali pohon.

istirahat balai kehutanan aek nauli


Balai penelitian kehutanan aek nauli


11:30 Kita sampai di pinggiran danau toba  kemudian beli makanan nasi bungkus, 20rb/porsi dengan ayam gulai. 

Danau toba terbentuk dari Gunung yang amat besar, yang meletus pada 70ribu tahun yang lalu. Bahkan menurut ilmuan, akibat dari letusan ini menyebabkan perubahan iklim yang drastic dan penyusutan genetic manusia karena hanya menyisakan 15 ribu manusia. Wallahu Alam.



rumah makan halal di pinggir danau toba



Pemandangan danau toba
  

11:45 masuk kawasan ke Ajibata, retribusi motor bayar 10 ribu dengan tanda panah di plat warna hijau nomor. 

Tanda masuk danau toba


13:00 nyebrang ke samosir, biayanya 52 ribu, 2 motor dengan 4 orang (3 single & 1 married).

Jon, Rasyid, dan Bang Selan makan di kapal. Sedangkan saya tidak makan di kapal, karena saya bisa mual kalau makan di kendaraan. Banyak juga yang menawarkan makanan seperti air mineral, kuaci, dan telur rebus selama menyeberang. Mereka menawarkan dagangannya 10rb, 3 buah. Mereka tidak akan beranjak sebelum kita membelinya. 


menyeberang ke pulau samosir



13:40 Sampai di tepian samosir. Parkir di rumah warga, dan ada anak kecil perempuan yang agak malu-malu, keluar sambil bilang, "per motor bayar 5ribu...", kita pun bayar dan minta agar motor kita dijagain kalau bisa sih dirantai pakai rantai kapal pesiar. 

Kita numpang solat dulu di rumah makan Islami. Semuanya sudah makan di kapal. Jadi saya makan di parkiran tepatnya diatas motor (Bisa dibayangin?). Selagi saya makan, ada anjing berwarna putih mendekati saya, untungnya anjing tidak seperti kucing yang menggesek-gesekan badannya ke kaki kalau menginginkan sesuatu. Saya tidak tahu nama anjing itu, mungkin namanya Hachiko. Anjing tersebut kelihatannya menginginkan makanan yang saya makan, dia menjulurkan lidahnya, sambil mengangguk-anggukan kepalanya, saya pun bergegas makan nasi tersebut, lalu memberikan sisa daging ayam ke anjing tersebut.

Eh,, setelah saya beri makan, anjing itu terus mengikuti, saya pun mengusirnya. Anjing itu pun pergi dengan rasa kecewa. Saya harap anjing itu bukan benar-benar Hachiko, karena saya tidak tahu lagi kapan saya akan kembali ke sini.

Kita solat di jamak takdim di rumah makan. Kita pun makan dan minum sekitar 20rb/ porsi untuk dibungkus dan dibawa sampai hotel nanti, karena sangat sulit menemukan makanan halal sepanjang perjalanan. Oleh karena itu, sebaiknya banyak bawa bekal seperti roti jika akan melakukan perjalanan seperti ini.

parkiran warga samosir
Tempat Parkir di Rumah Warga

makanan halal di samosir


jalan samosir


15:00 Masuk ke museum Tomok Batak. Ada ibu menyapa kita dengan kata, "horas..." Kita tidak mempedulikannya karena jalan terburu-buru. Si ibu tersebut bilang, "jawablah Bang, nanti murah rezeki". Kita pun langsung menjawab dengan keras "HORAS…". SI Ibu itu pun langsung kaget.

Museum Tomok Medan Papan Nama



Museum Tomok Medan Lemari


Museum Tomok Medan Pintu

Museum Tomok Medan Patung

Museum Batak Tomok ini berisi alat-alat bersejarah dan adat. 

Setelah keluar dari museum Tomok Batak. Ibu tadi, memohon kita untuk mampir ke tempatnya untuk beli oleh-oleh. 

"Kita gak punya hepeng, Bu..." 

"Gak apa bang mampir aja ke sini lihat-lihat." 

Akhirnya kita pun lihat-lihat. Si ibunya sedang hamil, ramah dan selalu tersenyum, kedua anaknya dengan umur 3-4 tahun pun keluar dengan penampilan ingus yang belum diseka sambil menatap kita.

"Ini Bang, ulos asli hasil tenunan masyarakat sini. 20 rb saja bisa kurang."

Saya dan Jon, sebenarnya gak ada niat untuk beli apa-apa.

Dan Si Ibu tersebut tidak berhenti menawarkan semua barangnya sampai kita tertarik. 
"Ini sarungnya wangi bang, digosok-gosok tambah wangi dan dibuat dari serat pohon wangi."

Dia menggosok-gosok sarung tersebut dan kita menciumnya wangi. Dia bilang bahwa walaupun dicuci dan dijemur, wanginya tidak akan hilang. Kecuali dijemur di pinggir jalan, bisa hilang dibawa maling.
 
Bukannya beli Ulos, kita malah beli sarung. Si Jon gak bawa sarung, sedangkan saya memang cuma punya 1 sarung di kostan. Sarung yang tadi harganya 135rb ditawar menjadi 80rb/pcs. Bang Selan juga beli sweater kecil untuk anaknya. 


tempat jualan oleh-oleh samosir


Kemudian kita masuk juga kita ke makam Raja Sidabutar yang ada sejak tahun 1544. Untuk memasuki wilayah tersebut, kita diwajibkan mengenakan ulos untuk menghormati Raja Sidabutar. Ulos tidak perlu beli karena dipinjamkan oleh penjaga makam disana. Makam tersebut tidak dikuburkan ke dalam tanah, melainkan jasadnya hanya ditutup dengan ukiran batu. Raja Sidabutar merupakan orang pertama di Samosir yang sangat dihormati disana

Ukiran kepala besar menandakan wajah Raja Sidabutar sedangkan ukiran kepala wajah yang kecil menunjukkan permaisuri Boru Damanik. Alkisah, waktu dahulu mahar untuk meminang Boru Damanik adalah dua ekor gajah. Raja Sidabutar sampai mencarinya ke Aceh. Kalau calon istri saya menginginkan hal yang serupa, lebih baik bunuh saya saja. 

Kita bisa lihat bahwa orang batak sangat menghormati leluhurnya, seperti sepanjang perjalanan kita bisa lihat, disamping rumah warga terdapat tugu pemakaman leluhur mereka.  

Pintu Masuk Makam Raja Sidabutar
 Pintu masuk ke makam Raja Sidabutar
Makam Raja Sidabutar papan nama

Ekspresi Rasyid seperti bertemu dengan ayahnya (penjaga makam)

Makam Raja Sidabutar


Selanjutnya kita menuju ke Objek wisata Sigale-gale. Disini sebenarnya kita bisa melihat tari tortor. Karena kita harus segera berangkat jadi kita hanya sekedar foto-foto saja.

Sigale-gale merupakan patung yang dibuat untuk menghibur Raja karena anaknya tidak pulang setelah pertempuran. Sigale-gale dibuat atas saran penasehat Raja. Dia melakukan upacara adat dan tarian sehingga membuat patung tersebut bergerak dan hal tersebut bisa menghibur Raja yang sedang sakit. Nama Sigale-gale diambil dari nama anak raja tersebut yaitu Manggalae. Sigale-gale juga berarti bergerak sangat lambat dan pelan. 

Mendengar cerita itu saya jadi ingin pulang agar bapak dan ibu saya tidak membuat patung saya dirumah.  




15:30 kita berangkat lagi menyusuri sepanjang jalan pulau Samosir.

Rasanya seperti melihat orang yang kita sayangi. Damai banget…Pemandangannya sangat indah, sebelah kiri bukit-bukit dan persawahan yang letaknya sangat dekat, sedangkan sebelah kanan pemandangan danau toba. Subhanallah...

Pemandangan bukit-bukit samosir
Pemandangan danau toba



Pemandangan danau toba terbaik

16:39 Kita isi bensin di Panguluran 17 rb pertamax.
Sapanjang perjalanan kita banyak berhenti dan foto-foto, sampailah di tele pukul 18.00. 

Udaranya sangat sejuk sekali, oksigennya seperti bermain melalui lubang hidung, tenggorokan, bronkus, bronkeolus, alveolus, selanjutnya bercinta dengan hemoglobin dalam darah. Keadaan ini membuat saya ingin menghirup udara sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan AC, udara dipegunungan tidak sekedar dingin tapi kualitasnya pun bagus dengan kelembapan yang cukup. Sehingga bawaannya adalah rasa senang dan damai.

Saya bergantian bawa motor dengan Jon karena kedinginan, pukul 19.00 kabut mulai turun, dan semakin gelap. Untungnya si Jon, memiliki lemak berlebih sehingga tahan terhadap dingin. Sedangkan saya kalau kena angin dingin, dinginnya bisa sampai ke sumsum tulang. Dipastikan suhu udaranya kurang dari 24C, karena tolak ukurnya, saya hanya bisa tahan dikamar ber-AC dengan suhu maksimal 24C. 

Jalannya sepi sekali, saya takut ada begal di sana, karena kita hanya 2 motor berkendara menuruni gunung, jarang sekali ada kendaraan lain.

20:00 Sampai di penginapan Angkasa Jl. Nusantara no 4 Sidikalang dan langsung check in. Bayar per kamar 100rb dan bisa muat untuk 2 orang. Ukuran kamarnya lumayan cukup luas. Dikasih juga sabun dan handuk. Menginap di sini tidak perlu AC karena suhunya sudah sejuk dan dingin. Karena hotelnya murah, kalau saya sih tidur dialasi dengan sarung lagi, agar tidak gatal-gatal.

Gerbang Hotel Angkasa Raya

Kamar hotel Angkasa Raya Sidikalang


Tempat Duduk Angkasa Raya Sidikalang

Tempat duduk untuk bercengkrama dan diskusi rencana perjalanan selanjutnya

Kita beli makanan baso hangat, seharga 13 rb/porsi. Porsi basonya besar dan lumayan enak. Kuah baso yang hangat dicampur dengan nasi bungkus yang sudah menjadi dingin akibat perjalanan dari Samosir. Kita tidur sekitar jam 22:00

Hari Kedua: Air Terjun Sipiso-piso

05:00 Mandi solat

07:20 Sarapan dengan roti dan langsung berangkat

07:28 Isi bensin 12 rb di Sidikalang. 

Pagi-pagi sudah disuguhkan pemandangan yang apik.. menambah kita semangat melanjutkan perjalanan.

Bukit Sidikalang
Pemandangan Bukit Sidikalang


8:20 Kehujanan, pakai jas hujan, dan pipis di pinggir jalan. Untungnya kita laki-laki, tinggal butuh tisu, dan air urusan kelar dah. (Penting gak sih..)

9:30 Salah jalan menuju air terjun Sipiso-piso 

"Pak, ini ke arah air terjun Sipiso-piso?"

"Iya, per motor bayar 15 ribu."

Kita heran, kok jalannya berbatu dan sulit dilalui. Bahkan saya sampai turun motor, mendaki lekukan jalan yang tidak ada habisnya hingga lutut saya terkilir. Untungnya ada orang yang lewat, dan mereka bilang bahwa arah yang kita daki adalah bukit gundul bukan air terjun sipiso-piso. Jadi kita turun lagi, dan menuju pintu gerbang berikutnya.

Akhirnya kita menemukan gerbang menuju air terjun sipiso-piso. Masuk motor bayar 8 ribu. Parker 5 rb.
 
Sesampainya disana kita langsung parkir di warung dan makan. Nitip tas di warung. Kita juga ganti sepatu menjadi sandal jepit agar ringan perjalanannya.


Bukit sipiso-piso

Air Terjun sipiso-piso

Ada retribusi kebersihan di pertengahan jalan tangga menuju air terjun. Orang tersebut berjaga sambil main catur dan meminta uang 2 rb kepada orang yang melewatinya.

Baru beberapa tangga kita turuni, eh kita melihat ada orang yang pingsan setelah naik tangga tersebut. Sebaiknya kalau menuju wisata alam seperti ini, sepatu dan pakaian pun disesuaikan. Banyak pasangan yang berpenampilan seperti mau nonton ke bioskop yang malah menuruni ratusan tangga disini. Memakai sendal tapi berhak, celana jeans ketat dan lain-lain. Seharusnya sih, pakai pakaian olahraga untuk melewati rintangan tangga ini.  

Ada hal yang buat semangat adalah bidadari mandi di air terjun tersebut.  

Pelangi di air terjun sipiso-piso
Bidadari Sedang Mandi

Lutut saya terkilir waktu salah jalan di jalan menuju bukit gundul sipiso-piso. Saya paksakan untuk turun tangga dengan hati-hati, saya gak ingin balapan. Tidak seperti rasyid yang cepat turun tangga karena memiliki bobot yang ringan. Loncat-loncatan seperti tanpa grafitasi, mungkin dia memiliki kemampuan levitasi atau jurus meringankan tubuh. Pak Selan yang bobotnya paling besar dan saya yang cidera turun paling belakang. 

Sampailah kita ke bawah sipiso-piso, wuidih anginnya sangat kencang. Saya pun menitipkan barang saya ke tenda tempat jualan wop mie dan minuman hangat di bawah. Saya pakai celana pendek, dan mencoba mendekat sipiso-piso, dan luar biasa, segarnya. Anginnya sangat deras dan rasanya tubuh seperti di steam di cucian kendaraan bermotor. Ada yang bilang bahwa arti dari sipiso-piso adalah karena arusnya yang deras yang perih bila terkena tubuh. Maklumlah, ketinggian air terjun ini mencapai 120 m, bisa dibayangkan derasnya percikan air terjun dibawahnya.

Saya duduk dekat batu dan itu pun masih merasa takut karena takut tiba-tiba longsor atau ada banjir bandang karena awannya mendung. Saya gak berani lama-lama disana, barang elektronik yang tak tahan air bisa rusak disana, belum lagi perjalanan ke medan masih jauh dan harus menjaga kondisi badan. Baju saya pun basah kuyup. Saya beli wop mie 10 rb di kedai paling dekat dengan air terjun, sebagai ucapan terimakasih karena bersedia menjaga barang saya.

Kita akan kembali ke atas dan mesti menanjaki ratusan tangga. Triknya adalah jangan melihat banyaknya tangga tapi jalani saja tangga tersebut sedikit demi sedkit. Seperti halnya, jangan melihat akhir kehidupan tapi jalani saja kehidupan ini.

Melangkahlah pelan-pelan, kecil-kecil saja dengan tangga yang landai dengan kecepatan yang konstan dan selalu istirahat setelah 2-3 tikungan tanjakan, agar kaki tidak keram. 

Naiklah tangga dengan cara selalu bergantian kaki kiri dan kanan. Tak usah terburu-buru karena ini bukan perlombaan.

Jangan khawatir kehausan karena setiap lekukan tangga ada juga yang jualan minuman atau wop mie, dan tempat singgah. Jangan lupa yah, selalu buang sampah ditempat sampah.

tangga sipiso-piso

tangga sipiso-piso
 Tangga yang paling terjal (ngeselin)
 

Sesampainya di warung kita istirahat lalu numpang solat di warung tersebut.

13:15 Akhirnya kita pulang pukul menuju medan. 

Kita melewati brastagi dan nyobain makanan pecel, wajik. Cukup murah hanya 13 ribu bisa merasakan pecal di rumah makan bahagia. Bang Selan pun bilang bahwa saya pasti suka, orang sunda kan suka rumput-rumputan sayur-sayuran. Boleh minta bumbu pecelnya dipisah, karena saya tidak suka yang terlalu pedas. Wajiknya juga enak. Free wifi juga disana.


Rumah makan Bahagia

 Rumah makan Bahagia Pecel
Rumah Makan bahagia Brastagi

Kita sampai di Medan, jalan halat, kostan Jon. pukul 17.30.

Begitulah cerita perjalanan kita. 


 Terimakasih kepada Jon, Rasyid, dan Bang Selan atas perjalanannya.



sumber gambar: dokumen anggi kusumawardani dan hisyam. 
Perjalanan ini juga ditulis oleh: https://anggigeo.wordpress.com/  

12 komentar:

  1. Eta aya anu kiih meuni direkam haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. hayu atuh geura dirundingkeun, kamana deui yeuh...

      Hapus
  2. Perginya bareng sama Anggi toh? Soalnya baru komen soal pecel Bahagia itu di blog nya dia :D. Biarpun udah ulang2 ke Samosir, tapi aku tetep suka. Bener2 indah pemandangannya kalau udara lagi cerah :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak Molly, Anggigeo lah yang jadi tuan ruamahnya, saya hanya tamu aja hehehe... Benar-benar indah Kak, kayaknya gak cukup waktunya hehe

      Hapus
  3. fotonya di gedein dikit bang biar keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Iyah,,, makasih sarannya.. udah dirubah tuh gambarnya hehehe

      Hapus
  4. Kalo di lihat dari trecking nya di hari ke 2, kan keluar samosir lewat pengururan ya, ndak mampir bro di Hot Spring nya ? disana bisa mandi air danau toba yang airnya panas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa daya Bro, dikejar waktu.. besoknya masuk kantor pula hahaha... Iya mudah-mudahan bisa kesana lagi hehe

      Hapus
  5. Samosir...tempat yg tidak ada bosan bosannya kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, samosir emang tempat yang menakjubkan dan ngangenin

      Hapus
  6. Bang Icham Durian yokkk bulan Maret >,<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah diusahakan ikut, ada red carpetnya kan

      Hapus