Jumat, 25 September 2015

Ada Orang Kehabisan Ongkos (penipu atau bukan?)



Setelah solat isya berjamaah di mesjid At-Thoriq depan kostan. Gw dihampiri oleh seseorang dengan wajah sedih, galau, penuh gundah. Terlihat matanya yang berair. Entahlah apa itu factor kabut asap Palembang ataukah didalam hatinya terdapat unek-unek yang ingin dikeluarkan.
 -
Sepintas, memang terlihat kasihan orang tersebut. Berpakaian koko putih kusam, dengan tas slempang yang berisi baju dan memakai peci warnah hijau. Mukanya pun lusuh dan penuh kelelahan.
 -
“Mas Sekayu 3 jam yah dari sini?”, orang tersebut berkata dengan pelan dan penuh kecemasan.
“Iya jauh sih harus pake kendaraan travel.”
 -
“Mas, saya orang Bengkulu, kehabisan ongkos untuk pulang ke Sekayu?, Semoga Allah memberikan kelapangan rizki untuk Mas..”
 -
Dia menunjukkan dompetnya yang kosong dan menyerahkan ktpnya yang lusuh. Foto di ktp itu pun sudah tidak terlihat. Memang tertulis disitu lahir dan alamat di muara Bengkulu, kelahiran tahun 1981, dan ktp aktif sampai 2016.
 -
“Mas nyari kerja di Palembang ternyata susah yah, tanpa ijazah. Saya sudah ikhtiar berusaha cari ternyata 
semua menanyakan tentang ijazah. ” 
 -
*Ekonomi lagi sulit, nyari kerjaan tanpa ijazah. Kasihan juga nih orang.
“Kok bisa sih ke Palembang?”
 -
“Iya Mas, ikut kawan-kawan merantau disini, ternyata susah cari kerja disini. Saya mau pulang aja ke Sekayu.”
-
“Disini punya saudara?”
 -
“Gak punya, jadi 3 hari kemarin saya nginep di mesjid polda. Karena disana gak ada marbotnya”
-
*Ini orang kayaknya laper deh.
“Mau makan Mas? Yuk saya beliin makan.”

“Gak usah Mas saya tadi dikasih makan oleh ibu-ibu.”

“Ini nama mesjidnya apa yah?”

“At-Thoriq haqul yakin.”

“Kak disini mesjidnya dikunci yah?”

“Iya Mas”

Terlihat marbot sedang mematikan lampu dan mulai gembok pagar masjid.

“Mas disini ada penampungan gelandangan gak yah?”
“Wah kurang tahu tuh.. saya bukan orang sini sih, saya juga perantau.”

*Gw sih masih percaya sama dia karena dia muslim dan solat berjamaah.

“Bingung, kayaknya mau ke mesjid Agung aja, kalau nginep disana ktp ditahan.”

*Lumayan juga dari sini ke mesjid Agung kan jauh. Dia gak punya ongkos lagi.
“hemph… oke deh saya anterin ke mesjid Agung.”

“Gak usah Mas,,,”

“Udah ikut saya aja. Saya ke arah sana juga.”

Marbot mesjid pun menutup semua pagar Mesjid At Thoriq.

*Tadinya gw mau ngajak nginep di kost, tapi beresiko karena orang ini gak gw kenal.

Gw mampir ke kostan dulu ambil helm buat dia.

Sepanjang perjalanan dia ngobrol banyak. Nanya mengenai gw. Gw pun ngasih informasi yang sejujurnya. Dimana gw berasal, siapa nama gw, asalnya darimana, kerja dimana, bagian apa, udah berkeluarga atau belum, lulusan mana. Dia pun menjelaskan bahwa dia juga belum berkeluarga, 3 bersaudara, dia cuma lulusan STM, dan kedua orang tuanya sudah meninggal.

Gw pun mampir di atm.

“Aduh Mas ngerepotin.”

Gw ke atm untuk transfer bulanan ke nyokap gw. Dan kebetulan memang dompet gw kosong. Jadi gw ambil 500rb untuk isi dompet, dan buat beli tiket ngongkosin orang tersebut.

Gw pun menuju jasa travel Ratu Int*n.

“Mas disitu gak ada jurusan ke sekayu.”
Dia menunjukkan plang jasa travel tersebut.

Gw pun langsung menanyakan kasirnya.
“Mbak jurusan ke Sekayu ada gak yah?”

“Ada jurusan lubuk linggau, karena lewat Sekayu. Tapi ongkosnya sama dengan ke lubuk linggau. Gak dianter sampai tujuan, Cuma turun di jalan utamanya aja.”

“itu berapa mbak harganya?”

“160ribu.”

“adanya jam berapa aja?”

“Jam 8 pagi, 11 siang, dan 8 malam”
Gw pun melihat di jam tangan gw. Jam menunjukkan 8:04. Tapi jam gw cepat 10 menit.

“Kalau berangkat sekarang bisa Mbak?”

“Bisa, ini kendaraannya mau berangkat.”

Gw pun menanyakan kepada orang tersebut.
“Gmn Mas, berangkat sekarang jadi?”

“Gak Mas, saya harus cuci baju dulu, siang aja.”
*Alasan mau cuci baju dulu itu gak bisa gw terima sama sekali.

Kalau gw kasih tiket siang, maka dia bisa aja cancel keberangkatan dan dapat uang kembali sebesar 50%.

Gw pun memberi penekanan lagi.
 “Kalau berangkat sekarang saya ongkosin, kalau besok saya gak bisa ongkosin.”

“Hemph saya masih bingung, bibi saya dari sekayu bisa kirim ijazah pake Tiki.”

Nah, dari situ gw gak percaya sama sekali sama orang ini.

Gw pun nganterin dia ke mesjid Agung dan gw turunin dia disitu.

“Saya cuma bisa bantu segini yah.”
Sambil bersalaman.

“Mas ada ongkos gak?”
Dia masih minta ongkos dengan nada pelan-pelan.

“Saya gak percaya sama Mas.” *ini datang dari hati gw secara spontan

“Jangan su’uzon Kak, saya juga gak enak kalau nerima dari orang yang su’uzon, kita kan islam. kalau tahu kayak gini, mending saya cari orang lain yang bisa nolong saya.”

Dia berbicara dengan lancar dan cepat, tidak lagi terlihat wajah yang kasihan. Malahan penuh kekecewaan dan kekesalan.

Gw pun tersenyum mendengar perkataan seperti itu, dan gw gak menyesal telah melakukan ini.

Gw berusaha menolong orang tersebut dengan cara gw. Karena kalau gw langsung mengabaikan orang tersebut tanpa tahu kondisinya apakah dia penipu atau bukan. Maka gw akan merasa bersalah karena tidak menolong sesama dan itu akan terus terbayang dalam hati dan pikiran gw. Gw selalu memposisikan gw di orang tersebut. Jika gw benar-benar kehabisan ongkos di ranah perantauan tanpa sanak saudara dan sulit mendapatkan kerja bagaimana?

Ad-Dhuha ayat 10 menjelaskan bahwa kita tidak boleh menghardik yang meminta-minta. Tapi kalau ternyata mereka yang meminta-minta itu adalah seorang penipu dan pembohong, kita gak boleh membiasakan mereka melakukan seperti itu.

Gw sering ketemu banyak orang dan pernah ada orang yang menjelaskan bahwa pengertian sedekah itu bukan memberikan uang. Tapi sedekah-sodaqoh-sidiq artinya juga membenarkan orang yang salah. Orang tersebut pun bilang bahwa su’uzon itu artinya bukan selalu berprasangka buruk dan khusnuzon artinya bukan selalu berprasangka baik. Tapi su’uzon itu berprasangka tidak tepat sedangkan khusnuzon berprasangka dengan tepat. Misalnya, ada orang yang sering mabuk-mabukan, judi, penipu, dan suka berbohong, kemudian dia meminta uang kepada kita. Apakah kita akan memberikan uang kepada dia?

Kalau khusnuzon berarti selalu berprasangka baik, maka kita akan kasih orang tersebut dengan keyakinan penuh bahwa uang tersebut akan digunakan untuk hal-hal yang baik.

Kalau khusnuzon berarti berprasangka dengan tepat, kita akan berfikir secara mendalam dan berdasarkan kebiasaan buruk orang tersebut, maka kita tidak akan memberikan uang padanya. karena uang tersebut bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang buruk lagi.

Begitu pula denga su’uzon.
Menurut kalian mana pengertian khusnuzon yang anda setuju?
Seorang penipu akan menggunakan kata su’uzon kepada kita sebagai senjatanya padahal yang kita lakukan sudah tepat. Hal tersebut untuk membuat kita merasa bersalah. Memang orang melankolis selalu mudah dimainkan perasaannya oleh seorang penipu yang ulung. Saya pernah baca buku psikologi bahwa ada pembohong/penipu alami. Orang yang lahir dan dibesarkan dari keluarga pembohong, lingkungan pembohong, hidup dengan membohong, jadi ketika berbohong tidak terlihat wajahnya seperti berbohong karena berbohong dengan berkata benar itu tidak ada bedanya, malahan terkadang dengan berbohong lebih menguntungkan hidupnya.  

Kasus diatas adalah contoh orang pembohong alami. Dan untungnya Sang Melankolis Logis tidak menjadi korban, pembohong alami ini.

2 komentar:

  1. ya memang banyak penipuan tapi apa kita pernah berpikir kalo dia benar2 butuh uang ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya saya tidak curiga sama sekali makanya saya berusaha membantu sebisa saya.
      Namun, tetap cara menipu seperti itu gak bisa dibiarkan walaupun dia sangat membutuhkan uang.
      Coba perhatikan masih banyak orang-orang dengan keadaan yang terbatas tapi masih bisa mencari rezeki yang halal dengan jerih payahnya sendiri

      Hapus