Sabtu, 27 Desember 2014

Negeri Tujah, Ketika Tusuk Menusuk Menjadi Hal yang Biasa




Kali ini gw akan menceritakan bagaimana hidup di negeri Tujah. Tahukah kawan apa yang disebut dengan tujah. Tujah yang aku tangkap dari pembicaraan orang lain adalah penusukan dengan menggunakan pisau dan bermaksud untuk membunuh. Iya, orang di negeri ini tak suka beradu mulut. Jika ada masalah yang terjadi, bukan mulut yang bicara tapi pisau yang berbicara.

“Hei, aku tujah kau…” ketika kau mendengar kata itu. Maka itu bukanlah sekedar gertakan. Pasti ada seseorang yang telah ditusuk. Sasarannya adalah tubuh seseorang, bisa punggung, atau bagian perut. Kawanku pernah menyaksikan orang yang ditusuk perutnya (lambung), katanya suaranya seperti kamu menusukkan jarum ke balon.

Ada pun cerita dari pengusaha roti yang bernama Dede. Dia baru saja membuka cabang di negeri tujah. Dia bercerita bahwa pemasaran rotinya di daerah tersebut sangat baik. Apalagi jika harga karet dan sawit sedang tinggi. Harga karet tertingi bisa mencapai 20rb, nah ini membuat perekonomian negeri ini sangat baik. Pengusaha penjual barang dan makanan apapun akan merasakan dampak perekonomian yang positif. Orang-orang negeri ini, biasa royal menggunakan uangnya. Ketika uang sudah di tangan maka dia akan membeli apapun, entah itu barang elektronik, pakaian, ataupun kendaraan. Namun, ada juga beberapa yang menabungkan uangnya ke Bank. Infrastruktur bangunan, jalan, dan jembatan di negeri ini sangat baik, tidak ada yang rusak sedikitpun. 

Adapun pabrik rokok yang baru saja buka di negeri tersebut sangat sulit untuk mendapatkan tenaga kerja.
  
“Daripada saya kerja dari pagi hingga malam dengan gaji kecil. Lebih baik saya di kebun mengumpulkan getah karet. Kerja lebih santai, hanya menunggu tetes demi tetes getah masuk ke dalam wadah batok kelapa.”

Di lain sisi, ketika harga karet turun menjadi 4rb, munculah banyak terjadi tindak kriminalitas. Asep yang merupakan sales roti, pernah mendengar tentang obrolan pria-pria di warung. 

“Jon, kali ini kita turun dimana?, gw gak pegang uang nih buat bayar cicilan motor” 

“Iya, gw juga gak pegang uang sekarang. Di daerah persimpangan masjid aja, kan biasanya ada mobil indomar lewat situ.”

“Oke siap..”

Mereka terang-terangan berbicara seperti itu di depan Asep, seolah menjadi hal yang lumrah.
Saat musim karet dan sawit murah, Dede disamperin oleh orang daerah tersebut bahwa rotinya gak boleh berkembang karena bisa mematikan usaha orang lain. Dede merupakan perantau, dia diancam oleh pengusaha roti daerah setempat. Dede mengerti akan nasehat tersebut (red:ancaman). Dede pun produksi roti hanya sekedarnya saja.

Asep mengakui bahwa sebenarnya sangat mudah berjualan di negeri tujah. Dia bisa mengantarkan 10 keranjang roti setiap harinya. Roti yang BS (Basi) atau berjamur pun sedikit, sehingga untung yang didapatkan pun banyak. Suatu hari dia ingin mengantarkan roti ke daerah pinggiran kota. Dia pun bertanya ke warung tentang daerah tersebut.

“Bu, di daerah sana. Masih banyak warung gak? Aku mau ke sana untuk menjual roti.”

“Sebaiknya jangan hari ini Pak, ada orang yang mati di persimpangan masjid itu. Darahnya saja masih segar.” Dengan enteng penjaga warung menjelaskan.

Muka penjual roti pun langsung pucat. Dia langsung balik lagi ke rumahnya untuk menenangkan diri padahal masih ada 8 keranjang yang harus dia jual.

Jika kita ragu atau cemas terkadang hal tersebut justru terjadi. Inilah yang dialami oleh Asep. Dengan modal nekat dia menjamah daerah baru untuk menjual rotinya. Dia pikir jam 10 pagi adalah aman untuk jalan-jalan mencari langganan baru. Eh, nyatanya ada dua orang yang menghampiri motornya dan menanyakan tujuannya kemana. Dengan polos, Asep menjelaskan bahwa dia hanya ingin jalan-jalan memperluas pemasaran. Selanjutnya, dua pria tersebut mengeluarkan pisaunya. Dia menyuruh Asep menyerahkan motor dan dompetnya. Asep pun pasrah dan menyerahkan seluruh hartanya ke pemuda tersebut. Padahal motornya baru berusia 1 bulan, dan dia setiap hari mencuci motor tersbut. Motor bagus selalu jadi incaran perampokan. Justru, motor yang kusam dan sudah berumur, jarang dicuci bisa lebih berguna dan aman.
Dede bercerita mengenai kejadian yang dialami Asep di warung.

“Kemaren teman saya di rampok ketika akan mengantarkan roti. Motor dan dompetnya pun hilang.”

“Orangnya ditusuk Pak?” Kata pemilik warung.

“Alhamdulillah orangnya sih gak apa-apa.”

“Oh, mendinglah. Dia harus bersyukur sekali, motor dan harta gak apa-apa hilang. Daerah sini memang rawan Pak, mereka lebih memilih merampok dari pada anak dan istrinya kelaparan.”

Dari perkataan tersebut, Dede bisa menyimpulkan bahwa lebih banyak yang mati ketika dirampok. Dede pun menutup pabrik rotinya di negeri tersebut.

Ada juga kejadian dari Ade. Ade pernah ditabrak oleh motor satria dari depan. Sepertinya motor satria itu sedang bapalan sehingga dia mengambil jalur berlawanan. Dia tidak melihat mobil di depannya. Korban dibawa ke rumah sakit hingga menghabiskan biaya operasi 35 juta. Namun, nahas, nyawanya tidak tertolong.

Ade kemudian dibawa ke polres, dia menceritakan kejadiannya. Empat keluarga korban, yaitu bapak dan tiga saudara laki-lakinya menghampiri Ade. Sebelum masuk kantor polisi, 4 orang tersebut menaruh pisau mereka di meja pak polisi. Ade hanya bisa terdiam menyaksikannya. Keluarga korban bilang bahwa ketika satu nyawa hilang maka harus digantikan oleh beberapa orang menjadi keluarga. Oleh karena itu, perlu acara adat. Pak Ade berserta adiknya mengikuti saran dari bapak tersebut. Dia harus tinggal di kampung selama 3 hari 2 malam. Ade dan adiknya merasakan adat istiadat kapung tersebut. Mereka disatukan dengan alam oleh penduduk setempat. Kakak korban senang mengobrol dengan Ade hingga larut malam. Kakak korban bercerita tentang pengalamannya menusuk orang, membunuh orang, dan dia pun menunjukkan luka-luka tusukan ditubuhnya. Hal-hal tersebut menjadi kebanggaan mereka. Menurut mereka ketika sudah saling tusuk maka masalah akan selesai. Ade sebenernya tidak ingin mendengar cerita-cerita tersebut, tapi demi menghargainya, dia terus bertahan mendengarkan cerita tersebut. 

Tidak ada kamar mandi di kampong tersebut sehingga Ade harus mandi ke sungai. Dia diantar oleh kakak korban. Namun, dia melihat kakak korban menaruh pisau di pinggangnya. 

“Pak, buat apa bawa pisau ketika mandi.” Pak Ade dengan wajah cemas.

“Gak apa-apa, buat jaga-jaga jika ada ular aja.”, Sambil tersenyum

Orang desa tersebut mandi saja bawa pisau. Bisa dibayangkan kan, bagaimana merasa terancamnya Ade. Ternyata kebiasaan membawa pisau bukan dilakukan oleh pria saja melainkan juga wanita. Mereka biasa menaruh pisau di tas mereka.

Adapun cerita dari Rizal. Rizal tinggal dan besar di daerah pasar. Rizal memang dilahirkan di negeri ini, namun dia cinta kedamaian, dia mudah bergaul, dari Koko pemilik toko sampai preman-preman di pasar. Kalau soal tujah-menujah dia sudah banyak dengar dan menyaksikan peristiwanya. Perebutan lahan parker di pasar pun bisa berakhir dengan tujah-menujah”

Pernah ada orang yang memeluk dirinya sambil meminta tolong. Ternyata di punggungnya sudah menancap pisau cap garpu. Pisau tersebut menembus punggungnya hingga ujungnya keluar di bagian dada. Namun, pisau tersebut sudah tidak bergagang. Mungkin pisau tersebut didisain agar gagangnya mudah lepas sehingga bisa menghilangkan barang bukti (Red:sidik jari).

“Pak tolong saya Pak.” Ucap pria orang yang ditusuk.

Rizal pun melepas pelukan pria itu dan lari. Bukan tidak ingin menolong, tapi dia lebih mementingkan keselamatan dirinya sendiri.  

Walaupun hidup di pasar dan berteman dengan preman, Rizal tidak kebal dengan peristiwa perampokan. Ketika dia sedang berkunjung ke pasar lain, ada lelaki menghampirinya. Dan menodongkan pisau agar Rizal menyerahkan dompetnya. Rizal bertubuh pendek dengan kulit hitam sehingga orang akan menganggapnya remeh dan mudah ditaklukan. Padalah dia pernah ikut beladiri karate sewaktu sma. Orang yang menodongkan pisau ke dirinya langsung diputar tangannya, lalu dia tonjok dagunya. Ternyata perampok itu tidak sendiri. Temannya langsung menaruh sesuatu di leher Rizal. Yang dia rasakan adalah ada benda logam dan lehernya merasa dingin ketika menyentuhnya. Rizal tidak bisa lihat itu pisau atau bukan. Tapi Rizal menyadari bahwa nyawa lebih penting dari harta, dia pun menyerahkan seluruh hartanya. Padahal dia baru 2 bulan menikah. Dia berdoa agar diberi keselamatan oleh Allah. Setelah Rizal menyerahkan hartanya. Pisau di lehernya pun dilepaskan. Ternyata pria yang telah dihajar, berusaha balas dendam. Dia mengarahkan pisau ke arah perut Rizal. Untunya Rizal memiliki reflek yang baik sehingga hanya menyentuh pinggangnya. Kedua lelaki itu pun langsung lari pergi. 

Hal yang konyol yang dilakukan Rizal adalah menaburi lukanya dengan menggunakan kopi dan alkohol. Dia dapat ilmu tersebut dari temannya (red:preman). Sungguh perih rasanya. Esok hari, dia pergi ke dokter. Dokter bilang bahwa luka tersebut harusnya tidak dibiarkan lama karena biasa saja pisau tersebut mengandung racun. Jika pisau mengandung racun Rizal hari ini sudah meninggal. Dokter pun menyuntik lukanya. 

“Lukanya terkena tanah yah pak?”

“Bukan Dok, itu kopi.”

“Loh kok bisa kopi sih Pak.”

”Iya temen saya menyarankan seperti itu.”

“Yah jangan diturutin hal yang belum tentu benar Pak.”

“Saya jadi harus membersihkan serbuk-serbuk kopi ini di luka bapak.” Kata dokter.

Rizal melihat dokter mengoyak-oyak dagingnya untuk membersihkan serbuk kopi tersebut. Namun, dia tidak merasakan sakit karena sebelumnya sudah di bius.

Akhirnya, aku pun menyaksikan aksi tujah-menujah juga. Sewaktu demo pasar, ada ibu yang berteriak 

“Tujah… Tujah…. “ 

Aku pun menghampiri kerumunan orang. Rupanya ada tukang ojek yang telah ditusuk bagian punggungnya sebanyak 7 kali. Pelakunya langsung lari. 

Orang-orang hanya menyaksikannya tanpa berbuat apa-apa. Untung saja ada kawannya, pria tersebut dibawa dengan motor. Dia didudukkan di tengah, diapit dua orang. 

Aku melihat wajahnya sudah biru dan pucat. Tak lama ada kabar bahwa dia meninggal di dalam perjalanan.
Setelah kejadian itu orang terlihat biasa saja, dan melanjutkan aktivitas masing-masing. Sedangkan saya shock berat, makan siang pun jadi gak nafsu, rasanya pengen segera pulang ke Jawa. Tukang becak pun bilang bahwa 3 hari yang lalu juga terjadi hal yang serupa, tapi waktunya subuh hari. 

Tidak semua orang di negeri tersebut seperti itu. Ada juga orang yang berpendidikan, kerja keras, jujur, dan pandai menahan emosinya. Ketika orang tersebut merantau untuk merubah nasibnya mereka pun terkena dampak negatifnya. Perusahaan-perusahaan sulit untuk menerima dia karena ktpnya bertuliskan Negeri Tujah.