Jumat, 28 Maret 2014

Cara Melaporkan Pajak Penghasilan Gaji (SPT) di Palembang.



Pas lagi di UKM. Tiba-tiba hp gw bergetar. Gw lihat nomernya gak gw kenal. Apakah mungkin yang nelpon dari agen CIA atau Abu Bakar Ba’asyir. *jeng..jeng…jeng (backsound sinetron). 

Gw pun berfikir selama lima detik untuk ngangkat tuh telepon. Akhirnya setelah detik ke-6 gw putuskan untuk mengangkat tuh telefon. “Halo.. dengan Bapak Hisyam..”. Ada dua alasan yang buat gw kesel dari kalimat ini. Yang pertama, gw belum jadi seorang bapak WOIII.., please deh… kan gw masih remaja… [yang baca jangan protes]. Yang kedua, yang nelpon adalah cowok. Padahal yang gw harapin yang telfon, Tailor Swift. [yang baca jangan nimpuk].

Sebut saja yang nelpon gw, namanya Pak Edy, dan itu merupakan nama sebenernya ketika dia memperkenalkan diri di telpon. Dia menjelaskan dan meyakinkan gw bahwa dirinya sesungguhnya adalah bagian accounting (agak lebay nih bahasa). Dia minta email gw. Tapi gw takut nanti akhirnya dia searching friendster, facebook, twitter, dan path gw. Gimana dong???  Tapi gw yakin dia gak bisa nemuin friendster gw, karena gw sendiri nyari gak ketemu hehehe.. Karena urusan pekerjaan terpaksa harus gw kasih email gw. Dan gw berdoa kepada Tuhan, agar gw gak di stalking.

Okeh kita langsung ke intinya, Pak Edi Ini suruh gw ngirim SPT ke KPP. Gw rasa semuanya berhubungan dengan pajak. Sebenernya gw gak tahu istilah ini. SPT bisa jadi kepanjangannya, Surat Pajak Terikat, Surat Pajak Tunggak, Surat Pajak Tahunan, Surat Pajak Tunda, dll. Ternyata usaha gw sia-sia untuk memikirkannya, yang benar kepanjangan SPT adalah Surat Pemberitahuan. T-nya mana Woiii.. Mungkin kalau dia bilang SP bisa banyak artinya, dan gw bisa juga shock nanti. Coba kalau tiba-tiba, ada telpon dari kantor dan gw disuruh ngurus SP, seremkan artinya. 

Sorenya Pak Edi, ngirim berkas tersebut lewat email. Gw bersyukur kepada Tuhan karena Pak Edi tidak mengirimkan lewat Tag di FB, Twitter, atau di path. Gw dikasih lembaran bukti pemotongan pajak penghasilan pasal 21 (1721-A1) dan SPT yang masih kosong.  
Dan isi emailnya sebagai berikut:
-
Berikut File yang harus diisi dan  kamu Print yah.. Nanti kamu Lapor ke KPP Pratama disitu aja gpp ( kantor pajak) terdekat.




Pertama, isi Identitas paling atas ada NAMA sama NPWP di Form 1770SS.  isinya Liat di Lampiran SPT Form (1721-A1)
Kedua, isi Kotak2 dibawahnya yang kosong yang ada Nomor 1 sampai 12 :

isi No. 1 di isi Nomor 9  ( Liat di FORM 1721-A1)
isi No. 2 di isi Nomor 13  ( Liat di FORM 1721-A1)
isi No. 3 di isi Nomor 17  ( Liat di FORM 1721-A1)
isi No. 4 di isi Nomor 18  ( Liat di FORM 1721-A1)
isi No. 5 di isi Nomor  13 ( Liat di FORM 1721-A1)
isi No. 6 di isi Nomor 22  ( Liat di FORM 1721-A1)
isi No. 7 Kosongin

- Langsung isi No. 11 dan 12.
(11) Jumlah harta yang dimaksud, seperti misal punya motor, nah nilai jualnya berapa, masukin ke situ nominalnya, termasuk saldo ditabungan juga, di total semua dimasukin di isi di No. 11.
(12) Jumlah hutang yang dimaksud, adalah jika punya hutang di Bank, KPR/RUmah, termasuk hutang motor juga semua nya dimasukin diisi di nomor 12.
contoh misal, punya angsuran Bank sebulan 500.000 tinggal 5 bln, dimasukin, Motor 600.000 tinggal 7 bln, di total semua dimasukin di isi di No. 12.
 -

Gw agak heran kenapa No. 5 sama dengan no. 2. Langsung gw tanyain ke accounting, dia bales dengan “Ia mmg gtu.. Isi aja. Masa qu ksh tau yg salah. Ok J”. Serem gw nerima sms gini, ini yang sms soalnya cowok, tapi memang gayak orang beda-beda kalau sms. Baiklah gw ikutin aja semua yang ada disitu.
Lalu selanjutnya adalah gw mesti nyari KPP (kantor pemilihan pemilu). Ups salah,, maklum lagi suasana kampanye.. hehe.. KPP itu Kantor Pelayanan Pajak. 

Bingung gw harus cari kemana alamat KPP (Backsound: ayu Ting-ting – Salah Alamat). Peribahasa menyatakan bahwa malu bertanya, bersakit-sakit dahulu, lalu sesat dijalan (Bener Kan??). Gw pun tanya orang-orang di sekitar kostan. Pertama gw tanya si bibi yang suka cuci pakaian gw (termasuk pakaian dalam gw) #gakpenting. Ternyata si bibi, mengatakan… “Saya tidak tau De, Ibu belum lama di sini, Ibu sebelumnya lima tahun di Jakarta…. “. 

Sebenernya kalimat yang digaris bawah sungguh-sungguh tidak penting. Si Bibi malah curhat kejauhan tentang pengalaman kerjanya. Hemph… Selanjutnya, gw nanya ke tukang bangungan. Tukang bangunan yg pertama gak tahu, selanjutnya dia nanya ke tukang bangunan kedua. Ternyata tukang bangunan kedua juga gak tahu, sehingga dia nanya ke tukang bangunan ketiga. 

Nah, tukang bangunan ketiga ini, dengan wajah sungguh tidak meyakinkan, menunjukkan arah ke belakang. “Di jalan Veteran bukan Mas?”. *dia tidak bersuara, namun tangannya masih menunjuk ke belakang, dari wajahnya ingin menjelaskan tapi takut salah. “Oke deh Mas, Makasih…”. Tukang bangunan pun tidak bisa memberikan informasi yang jelas.

Lalu gw liat ada kucing lewat. Gw pun bertanya, “Lu tau Cing dimana tempatnya?”, Kucing bersuara, “Meong…”.  Gw, “Okeh, Fine.”
Akhirnya gw buka jurus wasiat gw. Eng ing eng… Buka Embak Google… Entah kenapa reflek gw, kalau buka browser pasti yang pertama diketik adalah facebook, twitter, dan detik hehehe…(kalian sama gak sih??).  Gw searching dengan nama  kpp Palembang. Nah, disitu gw dapet 3 lokasi, KPP ilir barat, KPP di dekat kambang iwak, dan KPP Madya di seberang ampera di jl Ahmad Yani.

Gw pun menyamakan lokasi di google map dengan program android navitel gw. Tempat yang pertama gw kunjungi adalah KPP ilir barat. Sesampainya disana, Loh.. disana kok sepi. Jangan-jangan gw kena jebakan Betmen.. Tapi gw beraniin masuk. Disitu Cuma ada 1 motor dan 1 mobil. Terlihat disana pintu dengan kaca hitam dan kotor. Gw ketok-ketok pintunya, dan keluar jin yang mempersilahkan gw melakukan 3 permintaan. (Sory.. agak ngawur hehe..). Balik lagi ke benang merah. Yang muncul adalah lelaki paruh buaya (baya) dengan memakai pakaian ISG (Islamic Solidarity Game) yang agak kusam.

 Aku pun agak mengintip di dalam, rupanya disana banyak berkas yang berantakan seperti tempat meng-kilokan kertas-kertas bekas. “De jika ingin mengurus SPT, kantornya di kambang Iwak, kalau disini hanya tempat arsip saja.”, Gw, “Baiklah Pak, makasih atas informasinya.”. Sayang banget nih gedung, terlihat kosong tanpa penghuni. Sebaiknya sih, lebih bisa dirawat. Atau jadiin rumah panti asuhan aja kek.. *sok bijak.  



Gw pun menuju kambang iwak. Benar sekali, disana ada bangunan besar berwarna biru. Gw pun masuk ke dalamnya. Gw liat ternyata jumlah mobil yang parkir lebih banyak dibandingkan dengan jumlah motor yang parkir. Gw pun jadi inget mobil gw yang gw kasih-kasihkan ke orang yang gak mampu. Gw langsung masuk, dan nanya ke petugasnya. Gw diberi tahu bahwa penyerahan SPT di meja yang panjang itu. 

Alamak, memang ramai sekali orang yang mengurusi SPT, petugasnya banyak, tapi orang yang akan menyerahkan SPT lebih banyak lagi. Ada dua meja di depan gw, mejanya mirip meja parasmanan sehingga membuat gw lapar, kira-kira panjangnya 12 m. Disana ada petugas yang menggunakan laptop untuk cek data. Anehnya, antrian tidak terlihat jelas. Hanya kursi-kursi yang diletakan berserakan di depan meja tersebut. 





Gw pilih kursi yang paling dekat dengan petugas, kira-kira gw antrian no. 4 lah. Eh ternyata orang di depan gw, tiga-tiganya ngurus kolektif, lebih dari sepuluh orang. Hemph, dan gw liat juga kebanyakan seperti itu. Baiklah, gak apa-apa nunggu. Sambil nunggu, gw bisa lihat jumlah harta orang-orang. Hehe… Tapi gw rasa semuanya gak pasti tepat juga sih. Pasti orang ngisinya berdasarkan perkiraan, kalau gw isinya berdasarkan apa yang ada di tabungan gw, soalnya motor dll punya orang tua. 

Yang buat lama, ada beberapa nama yang tidak ada di jaringan computer, sehingga harus di cari secara detail. Petugasnya pun pusing mengurusnya. Satu tahun pun berlalu (hiperbola:1jam). Tiba giliran gw. Petugas pun membersihkan sarang laba-laba serta lumut di seluruh tubuh gw. Gw kasih lembarannya, “Nah kayak gini Bu, gampang nyarinya.” *petugas itu nunjukin ke orang yang datanya tidak terdapat di jaringan. Kira-kira 1/2 menit data gw dimasukkan dan gw langsung dapat tanda buktinya. Inilah keuntungan punya nama pendek, hehe..