Senin, 20 Mei 2013

Penjual Kerupuk yang Buta




Saya melihat ada tukang kerupuk yang memegang tongkat berjalan pelan-pelan di pinggir jalan. Dia berdagang hanya dengan kakinya, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Jualannya pun terlihat masih banyak. Gw hanya bisa melihatnya. Jahatnya saya. Saya masih berfikiran negative terhadapnya. Bisa aja dia pura-pura buta supaya laku dagangannya. Saya pernah sakit hati gara-gara ngasih uang ke pengemis yang pincang karena saya kemudian melihatnya berlari dengan sehat. Siall… 
 -
Setelah diperhatikan baik-baik, dia benar-benar buta. Terbukti dia kebingungan ketika di klakson oleh mobil yang akan parkir. Ketika lelah dia duduk dimana saja. Terlihat bajunya yang basah oleh keringat serta kulitnya yang terbakar oleh teriknya matahari. Hati ini pun terenyuh ingin membantu. Tapi apa yang bisa saya bantu?.

Ya, mungkin dengan membeli kerupuknya saya bisa sedikit membantunya. Tapikan saya gak butuh kerupuk, selain itu saya juga harus banyak hemat. Tapi kasihan banget si Bapak itu kalau dagangannya gak laku, gimana dengan keluarganya. Inilah mungkin yang dinamakan keadaan was-wasilkhonnas. Keragu-raguan yang saya alami. 
 -
Suara teman saya tiba-tiba menyadarkan saya.
-
“Ayo Syam, kita berangkat. Kasihan yang lain mungkin udah pada laper”
Saat itu saya dengan teman saya beli nasi padang untuk teman-teman kantor.
-
“Ok…”
-
Saya pun pergi dan segera menuju kantor kembali. Namun, hati ini menyesal karena tidak membantu si bapak tadi. Saya tahu jika menyesal, pasti ada hal yang salah yang saya lakukan. Padahal dengan membantu dia, gak akan membuat saya miskin.

Makan siang pun jadi tak enak karena berfikir bisa jadi si bapak itu belum makan dari pagi. Rupanya saya belum menjadi orang yang baik dan peduli secara spontan. Kepedulian hanya muncul disaat saya sedang butuh. Padahal segala materi yang kita miliki hanya titipan.
Beberapa hari kemudian saya menemukan bapak-bapak buta yang pernah saya temui sebelumnya. Kali ini dia ditemani oleh seorang ibu. Ibu itu menuntunnya kemana-mana. Sambil menyuarakan jual kerupuk. Saya pun langsung tak menyianyiakan kesempatan ini untuk membeli kerupuk untuk membayar kesalahan saya di masa lalu. 
-
“Bu beli kerupuknya, berapa satu bungkusnya?”
-
Si Ibu malah nanya ke si bapak. Saya rasa ibu ini bukan dari keluarga si bapak dan dia hanya membantu si bapak berjualan.
“6000 de” 
-
Saya beli dengan uang 10000.
Si Ibu berkomunikasi dengan si bapak dengan mendekatkan mulutnya ke telinga bapak. Rupanya bapak ini kurang bisa mendengar dengan jelas. Saya pun makin terenyuh…
-
“Pa kembaliannya ada gak 4000?” tanya ibu ke si bapak.
Si bapak mengeluarkan uang selembar 2000 dari kantongnya. Rupanya hanya itu uang yang ia miliki. Si Bapak tidak berbicara satu hurufpun. Mungkin saat itu saya orang pertama yang membelinya, padahal sepanjang jalan itu banyak orang-orang berlalu-lalang.
-
“De, kembaliannya hanya 2000.” 
-
“Saya beli 2 bungkus aja (sambil menyerahkan uang 15000) dan ambil aja kembaliannya”
-
“Makasih yah de..”
 -
Sebenarnya saya tidak butuh kerupuk jadi satu bungkus saya kasih untuk OB dan satu bungkus lagi saya kasih untuk supirnya senior. Sebenernya hal yang saya lakukan gak special sih, cuma kita harus mulai walaupun dari hal-hal yang paling kecil. Saya yakin semua orang pasti memiliki perasaan yang sama seperti saya, bahkan bisa melakukan lebih baik.

Hal-hal seperti ini juga harus kita biasakan agar kita tidak menjadi orang yang kikir dan terlalu cinta terhadap harta. Saya lebih menghargai orang yang berikhtiar dibandingkan yang hanya meminta-minta. Semoga kita semua diberikan kepekaan social untuk menolong sesama… Aaamiin..