Selasa, 16 April 2013

Kelemahan Saya Menentukan Arah





Saya orangnya sulit menentukan arah dan gampang kesasar. Saya baru bisa menentukan mana kanan dan kiri saat SMP. Sebelumnya saya sering tertukar. Cara aneh yang saya lakukan waktu itu memeriksa jari telunjuk saya. Jari telunjuk yang bisa bergerak uratnyanya berarti itu tangan kiri. Saya orang rumahan yang lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Ke terminal aja linglung. Bisa dibilang perjalanan jauh sendiri bisa dihitung dengan jari. Masih teringat waktu pertama kali ke Cilegon sendiri, mamah nganter sampe terminal, cemas bilang. “Syam beneran kamu bisa berangkat sendiri?” . Mamah seolah-olah sulit melepas kepergian saya dan khawatir. Saya pun meyakinkan beliau untuk percaya kepada kemampuan saya. Jika terus dikhawatirkan dan terus dibimbing, saya tidak akan menjadi orang seutuhnya. Mungkin orang  akan menganggap betapa cupunya saya. Tak apalah, ini memang kelemahan saya. Saya sulit menghafal arah, tempat, dan gampang cemas di daerah yang saya tidak kenal. Namun, rasa cemas tersebut dapat hilang jika saya memiliki teman yang bisa menguatkan saya. Nama jalan-jalan di bogor pun saya tidak hafal semua. Jadi kalau ada orang yang nanya jalan ke saya, saya suka gak yakin jawabnya. 
-
Untuk pergi ke daerah yang belum saya kenal saya sering menggunakan GPS (Global Position System). Alat GPS ini membantu saya pergi ke mana-mana. Tinggal mengaktifkan program navitel di android, aktifkan GPS, lalu tentukan target daerah yang dituju. Selanjutnya pasang headset di telinga. Program tersebut akan memberitahu arah terdekat dan terus memandu selama perjalanan. Saya lebih memilih program navitel dibandingkan google map navigation karena program navitel bisa memandu dengan suara sedangkan program google map belum bisa. Kelemahan program navitel di hp android adalah dia selalu menunjukan jalan untuk mobil sehingga jika berhubungan dengna jalan tol, dia selalu menunjuk ke arah sana. Sedangkan saya menggunakan motor, hasilnya saya pernah kebingungan di Jakarta walaupun saya menggunakan program tersebut. Jika program navitel kurang efektif saya menggunakan program google map navigation. Google map navigation bisa menunjukkan jalan setapak sehingga bisa menunjukan jalan pintas yang tidak dilalui oleh mobil. Pernah saya menggunakan program google map ke bekasi. Karena saya harus sering melihat map dan posisi saya. Hp saya selalu pegang di tangan kiri dan tangan kanan untuk mengatur gas motor. Begitulah kondisi saya dari bogor sampai bekasi. Saya melalui jalan-jalan setapak hingga terblokir karena ada acara pernikahan di kampung tertentu. Saya pun menembus semak-semak dengan motor hingga peta terkalibrasi ulang. Saya menemukan jalan yang cukup besar menuju arah tempat yang akan saya tuju. Namun, ada yang aneh dari jalan tersebut. Jalan tersebut sepi dan tidak ada mobil yang melewatinya. Ternyata semakin lama jalan semakin sempit dan saya sampai di tempat pembuangan sampah akhir. Google map tidak menunjukkan tempat pembuangan sampah akhir pada program tersebut. Karena tak ada jalan lain, saya menerobos tumpukan sampah tesebut. Sampailah saya di suatu pabrik untuk psikotes dan medical cek up dalam keadaan bau sampah.   
-
Untuk menghafal jalan saya membutuhkan minimal sampai 3 kali melewatinya menggunakan GPS. Saya lebih suka menggunakan GPS dibandingkan bertanya ke orang. Pusing jika mendengar orang menjelaskan arah, “lurus, belok kira, kiri lagi, kanan, mentok, perboden, puter balik, ke kanan, perempatan ambil kiri terus ke kanan, …. Dst” Lalu ujung-ujungnya harus bertanya-tanya lagi. Keadaan yang bisa buat saya bertanya adalah ketika tidak bawa hp atau baterai hp habis karena program GPS ini menghabiskan energy baterai yang cukup besar.
-
Adapun peristiwa yang ga pernah saya lupakan seumur hidup saya mengenai arah pulang. Saya dan adik pergi ke rumah temannya. Rumah temannya itu berada di tempat yang belum saya dan adik pernah kunjungi. Setelah selesai main, kami pulang sendiri tanpa diberi tahu arah jalan pulang. Sampailah di jalan raya, adik saya yakin kalau jalan arah pulang ke arah kanan tapi saya sebaliknya. Waktu itu, saya kelas 5 SD sedangkan adik saya kelas 3 SD. Saya sangat yakin, jalan arah pulang ke arah kiri, tapi adik saya tidak mau menuruti saya. Kami berdebat sampai adik saya meneteskan air mata. Datanglah angkot yang ke arah yang saya yakini benar. Saya masuk angkot tersebut sedangkan adik saya tidak masuk angkot. Angkot itu pun jalan dan saya melihat adik saya dari dalam angkot, menangis di pinggir jalan semakin kuat. Kaka macam apa saya sampai meninggalkan adik saya di jalan. Saya pun tak tega meninggalkan adik. Saya turun dari angkot tersebut yang baru bergerak sekitar 30 m. saya menghampiri adik saya dan memeluknya dan berkata, “udah jangan nangis, malu diliat orang..”. Adik saya menarik tangan saya dan membawa saya ke arah tukang es yang dari tadi memperhatikan kami. Sambil menangis tersendak-sendak, dia bertanya pada tukang es tentang arah jalan pulang. Tukang es memberi arah yang sama seperti adik saya. Sedangkan arah yang menurut saya benar justru merupkan arah yang salah. Andai saya mengikuti jalan yang saya yakini benar, saya akan tersesat dan makin jauh dari rumah serta sulit pulang karena ongkos di katong saat itu pas-pasan. Saya pun meminta maaf kepada adik. Kejadian ini terpatri dalam memori saya. Saya makin menyadari kelemahan saya tentang arah. Sedangkan adik saya lebih percaya diri, dia beberapa kali membantu mengantar saya wawancara kerja ke tempat-tempat yang jauh tanpa takut tersasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar