Rabu, 24 April 2013

Ditilang Polisi di Wilayah Bandara




Menyambung dari dari tulisan saya sebelumnya tentang kelemahan saya menentukan arah atau merasa tak nyaman di tempat yang asing. Hal itu yang melatarbelakangi saya untuk minta di anter ama teman saya bernama Hakim. Nanti sesi lain saya akan menjelaskan tentang teman saya yang satu ini.

Dengan petunjuk peta gak jelas dari Andy Law (OB paling sabar seantero jagat dan jago silat) kita beranikan diri pergi ke bandara dengan menggunakan sepeda motor. Andy Law hanya menjelaskan garis-garis arah tanpa menggambarkan bentuk jalannya. Alhasil kertas peta yang Andy Law buat dengan susah payah akhirnya tidak kami jadikan patokan. 
-
Kami pergi menggunakan insting. Pertama, saya yang mengendarai motor dengan antusias. Karena emang saya cuma pernah sekali ke bandara itu pun waktu kecil banget, seukuran ipin upin, nganterin sanak sodara pergi haji. Ternyata gak susah juga menuju bandara. Cuma ikutin petunjuk arah bandara aja di petunjuk jalan.

Tapi harus teliti juga, jangan sampe nih motor tiba-tiba masuk jalan tol aja. Bisa berabe jadinya. Akhirnya kita masuk ke daerah bandara dengan ditandai oleh patung Presiden Soekarno dan Moh. Hatta. Tapi masih ragu apakah boleh masuk ke wilayah ini dengan motor?, Kami semakin tenang karena menemukan jalur khusus motor disebelah kiri.

Ternyata ada beberapa terminal disana. Rencana kita pengen survey terminal 1, 2, dan 3. Oh iya, saya belum menjelaskan kenapa saya mesti survey, karena seminggu lagi saya diminta pergi ke semarang untuk urusan pekerjaan. Maklumlah, ini berarti kesempatan pertama kali saya naik pesawat. Saya sangat antusias sekali walaupun beberapa hari lalu ada pesawat yang gagal mendarat di bali. 
-
Kalau berangkat dari Bogor terlalu beresiko saya belum tahu jadwal keberangkatan Bis Damry. Lebih baik, saya minta anterin temen naek motor dari Jakarta Barat tempat saya ngekost. Balik lagi ke survey, kali ini saya tidak menggunakan GPS karena takut arahnya mengarah ke jalan tol. Saya hanya mengikuti petunjuk jalan dan menanyakan ke orang-orang sekitar.

Atasan sih nyuruh pake taksi. Saya pikir ribet harus mesen taksi, ketemuan dimana, sopirnya ramah atau engga, parameter kilometernya bener apa engga, mahal apa engga, taksi yang mana, neleponnya gimana, kalaupun naik taksi gw gak tahu harus duduk dimana, di depan atau dibelakang kanan atau kiri atau dibagasi, terus kayaknya sayang banget kalau engga dimanfaatin kursi yang kosongnya, sopirnya bisa ngantering gw sampe pintu pesawat atau engga, sopirnya punya anak gadis cantik atau engga… loh…
-
Ternyata wilayah bandara tuh luas banget. Makin luas saya makin bingung. Belum lagi mobil-mobil yang berlalu lalang sangat banyak. Kami perhatikan jalan dan petunjuk arah. Celingak-celinguk merhatikan rambu dan nama-nama tempatnya. Hingga mobil bagus di belakang kesal dengan memencet klaksonnya keras-keras ke arah kami, padahal jalan masih luas untuk menyusul kami. Kami melihat di seberang jalan ada tulisan terminal 1.

 Muter jalan takut salah. Kami benar-benar berusaha mengamati petunjuk arah untuk putar balik. Ternyata cukup jauh juga. Sebenarnya ada peluang untuk putar balik. Tapi kami lebih memilih aman dengan benar-benar putar balik di tempat yang tanda boleh putar balik. Saya sudah berkomitmen terhadap diri saya untuk menaati peraturan yang ada di jalan.

Bukan karena takut ketilang tapi untuk keselamatan dan untuk keadilan, membela kebenaran (ala ksatria baja hitam). Anda pasti kesal jika di perempatan lampu hijau sedangkan dari arah lain atau samping kendaraan lain masih berjalan karena menerobos lampu merah. Lewat jalur busway pun saya tidak akan melakukannya lagi.

Walaupun banyak peluang untuk masuk ke jalur busway. Sekali lagi bukan takut ditilang. Tapi mencoba meringankan beban pengguna busway. Pengguna busway seharusnya tidak terhambat dengan kendaraan yang ada dijalurnya. Bayangkan jika anda punya anak perempuan yang biasa naik busway, pulangnya larut karena jalur buswaynya macet total. Agak lebay yah contohnya.. hehe.. 
-
Balik lagi ke daerah sekitar bandara. Akhirnya kami menemukan jalur ke terminal 1. Dan sudah memasuki wilayah parkiran motor. Karena target kami mengetahui semua terminal. Maka kami langsung melanjutkan perjalanan lagi. Ada beberapa rambu yang saya belum mengerti maksudnya apa. Tapi saya pikir jalur kiri adalah jalur yang paling aman. Sampailah di antara 4 pilihan jalan dengan 4 petunjuk arah yang belum saya mengerti harus kemana. Saya sadar ada pos polisi di depan. Saya jalan pelan-pelan menuju jalan yang paling kiri. Terdengar terikan, “motor,, motor,, motor,,”
-
Saya pun berhenti di depan polisi. Tepatnya hanya 8m dari persimpangan jalan tadi.
“Selamat malam Pa, motor tidak boleh memasuki wilayah ini…”
“Oh iya, saya tidak melihat ada petunjuknya Pa..”
“Keluarkan STNK dan SIM…”
“Ada Pa,,,” saya menjawab dengan yakin sambil tersenyum. 
-
Saya berprasangka baik kepada polisi bahwa dia tidak akan menilang saya. Karena memang saya tidak bermaksud melanggar peraturan. Saya pun berhenti ketika Pa Polisi meneriakan tentang “motor…”. Saya juga berada sangat dekat dengan persimpangan tadi. Saya berfikir polisi tersebut akan tersenyum dan berkata, “Maaf Pa ini, jalan khusus untuk mobil, Bapa seharusnya pergi ke jalan sebelahnya… “
-
Nyatanya apa yang saya dapatkan. Polisi yang berbadan besar, agak buncit, hitam, melotot, dan bersikap tidak ramah kepada saya bagaikan saya penjahat yang telah mencabuli anak di bawah umur yang harus di hukum seberat-beratnya.
-
“Sini ikut saya ke pos…”
Di Pos tersebut banyak polisi, ada yang makan gorengan, ada yang lagi becanda, ada yang lagi ngobrol, ada juga yang lagi nyari sepatunya. 
-
Saya disuruh duduk di samping pos dan polisi itu juga duduk disamping saya.
“Langsung tilang yah.. nanti tanggal 26 sidangnya,,” sambil mengeluarkan kertas-kertas tilangnya.
Saya hanya terdiam. Dan gak nyangka di dunia ini masih ada orang seperti ini.
-
Hakim (Teman saya) melihat ke persimpangan jalan tersebut. Ternyata ada rambu biru belok ke kanan dan motor di coret tapi berada di tengah-tengah persimpangan jalan. Dia pun bingung maksudnya apa.
“Gak bisa gitu Pa, kami benar-benar bingung rambunya tepat berada di tengah-tengah, dan gak tahu yang mana yang tidak boleh dilewati oleh motor.” Nada Suara Hakim agak keras karena dia agak terpancing emosinya.
 
“Gak tahu makanya nanya,” dengan wajah datar.
 
“Ini juga nanya Pa..” Jawab  Nasrun.
“Kalau kamu gak diberhentiin, tadi pasti kamu lewat aja… Kamu kira apa fungsi pos polisi di sini??” bicara dengan tegas.
 
Hakim ingin meladeninya lagi. Tapi saya memberi isyarat bahwa tenangkan diri. Biarkan saya yang menanganinya. 
-
Saya memegang pundak Pa Polisi dan bilang dengan nada halus dan cape, “Bukan gitu Pa, kami baru pertama kali ke daerah bandara ini. Jadi kami linglung sekali…”
 
“Kamu dari bogor yah…”
 
“Iya… tapi kami berangkatnya dari kosan di Jakarta barat” pasrah,,,
 
“Wah ini berat nih, nanti kamu bicarain aja di pengadilan tangerang tanggal 26.” Nakut-nakutin.
-
Polisi lain menghampiri saya, dan dia berkata kepada saya, “Mas Maaf bisa berdiri sebentar,” kali ini tampangnya gak bakat jadi polisi tapi lebih kelihatan muda dan ramah. Saya pun berdiri. Ternyata apa yang dia lakukan? Dia mengambil sepatunya yang ada di bawah kursi yang saya duduki. Lalu dia pergi lagi. Penting gak sih????
 
Ada lagi polisi yang baru aja menghabiskan gorengannya. Bilang ke saya, “Baru ke bandara pertama kali yah?”
 
“Iya pa, saya sangat senang sekali ada kesempatan untuk pertama kalinya naik pesawat. Saya tidak ingin telat datang ke bandara. Jadi saya survey dulu. Minggu depan saya berangkatnya.”
 
Pa polisi tersebut tampangnya merasa kasihan ke saya. Dia pun langsung memalingkan wajahnya. Mungkinkah dia menangis? Hehe.. 
-
Balik lagi ke polisi yang nakut-nakutin saya dengan kertas tilangnya.
 
“Ok, kamu tahu gak pengadilan tangerang dimana?”
 
“Gak tahu Pa, tolong kasih tahu alamatnya saja… “ suara saya semakin pelan.
 
“Saya kasihan sama Bapa, Bapa maunya gimana???” Mancing-mancing buat negoisasi.
 
“Biarin Pa, tilang saja saya. Saya memang salah melewati rambu itu. Tolong kasih tahu saya alamat pengadilan di Tangerang. Orang tua saya mengajarkan jika harus di tilang yah harus ditilang.”
 
Dalam hati, ‘Biarinlah saya ditilang. Emang sudah ditakdirkan seperti ini. Harus jalan-jalan lagi nyari pengadilan di tangerang. ‘
-
Polisi ini agak gondok juga.
 
“Nih kamu jalan aja…” sambil ngasih STNK dan SIM.
Gw langsung memajang wajah berkaca-kaca ke polisi tersebut.
 
“Nanti kamu lurus, simpangan pertama jangan belok kiri, simpangan kedua jangan belok juga, nah baru simpangan ketiga belok kiri…” Polisi menjelaskan dengan cepat.
 
Gw lemah dalam hal ini jadi saya dengan polos menjawab.
“apa…”
 
Polisi tersebut mengulanginnya dengan keras, agak kesal masih dengan kecepatan yang sama.
Saya masih belum mengerti. Jika saya bertanya “apa..” lagi  pasti saya langsung ditembak dibagian kepala. 
-
“Makasih Pa… “ Saya bersalaman dengan semua polisi disana bagaikan lebaran idul fitri.
Karena saya masih agak gemetar dengan kejadian tadi. Saya menyuruh Hakim gantian mengendarai motor.
 
“Jadi keterminal 2 Bang?” kata Hakim
 
“Udah deh balik aja, gw lagi ga mood banget.”
 
“Ok deh…”
 
Saya pun bersyukur keluar hidup-hidup dari pos polisi tersebut. The Raid kali gw hahahaha… 
-
Mau tahu alasan sebenernya yang buat gw jujur. Gw inget banget abis solat di pom bensin kemudian isi bensin. Di dompet gw cuma ada 2 lembar uang dan 2 logam.  1 lembar 10rb dan 1 lembar 100rb serta 2 logam 500.  Uang 10 rb gw beliin bensin. Sehingga sisa di dompet 101rb. Gak mungkin gw ngasih 100 rb ke polisi terus gw minta kembalian 80rb. Pasti mereka ngembat 100rb. Lebih gak mungkin lagi gw ngasih 1000 atau 2 logam 500. Karena logam tersebut, logam yang gak bisa dipake untuk kerokan. #Sekian.

Selasa, 16 April 2013

Kelemahan Saya Menentukan Arah





Saya orangnya sulit menentukan arah dan gampang kesasar. Saya baru bisa menentukan mana kanan dan kiri saat SMP. Sebelumnya saya sering tertukar. Cara aneh yang saya lakukan waktu itu memeriksa jari telunjuk saya. Jari telunjuk yang bisa bergerak uratnyanya berarti itu tangan kiri. Saya orang rumahan yang lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Ke terminal aja linglung. Bisa dibilang perjalanan jauh sendiri bisa dihitung dengan jari. Masih teringat waktu pertama kali ke Cilegon sendiri, mamah nganter sampe terminal, cemas bilang. “Syam beneran kamu bisa berangkat sendiri?” . Mamah seolah-olah sulit melepas kepergian saya dan khawatir. Saya pun meyakinkan beliau untuk percaya kepada kemampuan saya. Jika terus dikhawatirkan dan terus dibimbing, saya tidak akan menjadi orang seutuhnya. Mungkin orang  akan menganggap betapa cupunya saya. Tak apalah, ini memang kelemahan saya. Saya sulit menghafal arah, tempat, dan gampang cemas di daerah yang saya tidak kenal. Namun, rasa cemas tersebut dapat hilang jika saya memiliki teman yang bisa menguatkan saya. Nama jalan-jalan di bogor pun saya tidak hafal semua. Jadi kalau ada orang yang nanya jalan ke saya, saya suka gak yakin jawabnya. 
-
Untuk pergi ke daerah yang belum saya kenal saya sering menggunakan GPS (Global Position System). Alat GPS ini membantu saya pergi ke mana-mana. Tinggal mengaktifkan program navitel di android, aktifkan GPS, lalu tentukan target daerah yang dituju. Selanjutnya pasang headset di telinga. Program tersebut akan memberitahu arah terdekat dan terus memandu selama perjalanan. Saya lebih memilih program navitel dibandingkan google map navigation karena program navitel bisa memandu dengan suara sedangkan program google map belum bisa. Kelemahan program navitel di hp android adalah dia selalu menunjukan jalan untuk mobil sehingga jika berhubungan dengna jalan tol, dia selalu menunjuk ke arah sana. Sedangkan saya menggunakan motor, hasilnya saya pernah kebingungan di Jakarta walaupun saya menggunakan program tersebut. Jika program navitel kurang efektif saya menggunakan program google map navigation. Google map navigation bisa menunjukkan jalan setapak sehingga bisa menunjukan jalan pintas yang tidak dilalui oleh mobil. Pernah saya menggunakan program google map ke bekasi. Karena saya harus sering melihat map dan posisi saya. Hp saya selalu pegang di tangan kiri dan tangan kanan untuk mengatur gas motor. Begitulah kondisi saya dari bogor sampai bekasi. Saya melalui jalan-jalan setapak hingga terblokir karena ada acara pernikahan di kampung tertentu. Saya pun menembus semak-semak dengan motor hingga peta terkalibrasi ulang. Saya menemukan jalan yang cukup besar menuju arah tempat yang akan saya tuju. Namun, ada yang aneh dari jalan tersebut. Jalan tersebut sepi dan tidak ada mobil yang melewatinya. Ternyata semakin lama jalan semakin sempit dan saya sampai di tempat pembuangan sampah akhir. Google map tidak menunjukkan tempat pembuangan sampah akhir pada program tersebut. Karena tak ada jalan lain, saya menerobos tumpukan sampah tesebut. Sampailah saya di suatu pabrik untuk psikotes dan medical cek up dalam keadaan bau sampah.   
-
Untuk menghafal jalan saya membutuhkan minimal sampai 3 kali melewatinya menggunakan GPS. Saya lebih suka menggunakan GPS dibandingkan bertanya ke orang. Pusing jika mendengar orang menjelaskan arah, “lurus, belok kira, kiri lagi, kanan, mentok, perboden, puter balik, ke kanan, perempatan ambil kiri terus ke kanan, …. Dst” Lalu ujung-ujungnya harus bertanya-tanya lagi. Keadaan yang bisa buat saya bertanya adalah ketika tidak bawa hp atau baterai hp habis karena program GPS ini menghabiskan energy baterai yang cukup besar.
-
Adapun peristiwa yang ga pernah saya lupakan seumur hidup saya mengenai arah pulang. Saya dan adik pergi ke rumah temannya. Rumah temannya itu berada di tempat yang belum saya dan adik pernah kunjungi. Setelah selesai main, kami pulang sendiri tanpa diberi tahu arah jalan pulang. Sampailah di jalan raya, adik saya yakin kalau jalan arah pulang ke arah kanan tapi saya sebaliknya. Waktu itu, saya kelas 5 SD sedangkan adik saya kelas 3 SD. Saya sangat yakin, jalan arah pulang ke arah kiri, tapi adik saya tidak mau menuruti saya. Kami berdebat sampai adik saya meneteskan air mata. Datanglah angkot yang ke arah yang saya yakini benar. Saya masuk angkot tersebut sedangkan adik saya tidak masuk angkot. Angkot itu pun jalan dan saya melihat adik saya dari dalam angkot, menangis di pinggir jalan semakin kuat. Kaka macam apa saya sampai meninggalkan adik saya di jalan. Saya pun tak tega meninggalkan adik. Saya turun dari angkot tersebut yang baru bergerak sekitar 30 m. saya menghampiri adik saya dan memeluknya dan berkata, “udah jangan nangis, malu diliat orang..”. Adik saya menarik tangan saya dan membawa saya ke arah tukang es yang dari tadi memperhatikan kami. Sambil menangis tersendak-sendak, dia bertanya pada tukang es tentang arah jalan pulang. Tukang es memberi arah yang sama seperti adik saya. Sedangkan arah yang menurut saya benar justru merupkan arah yang salah. Andai saya mengikuti jalan yang saya yakini benar, saya akan tersesat dan makin jauh dari rumah serta sulit pulang karena ongkos di katong saat itu pas-pasan. Saya pun meminta maaf kepada adik. Kejadian ini terpatri dalam memori saya. Saya makin menyadari kelemahan saya tentang arah. Sedangkan adik saya lebih percaya diri, dia beberapa kali membantu mengantar saya wawancara kerja ke tempat-tempat yang jauh tanpa takut tersasar.