Sabtu, 12 Januari 2013

Peri Azan




Ketika ku mendengar suara azan subuh saat keadaan lingkungan yang dingin akibat gerimis, ku tarik selimutku lagi dan kudekap erat bantal gulingku. Tapi aku dengar suaramu “Ayo.. mau tidur lagi kan.., (pasang wajah cemberut). Bagaimana bisa jadi contoh yang baik dalam keluarga jika bangun untuk solat subuh saja susah?”. Aku pun langsung bangun dari kasurku, menuju kamar mandi, wudhu, dan bergegas pergi ke mesjid untuk solat berjamaah…
-
Pertama kali pegang tanganmu.   
Sambil menunggu azan magrib aku duduk di teras sambil melihat langit yang mulai kelam sedikit demi sedikit. Sore itu, langit berwarna jingga dengan awan keabuan yang indah. Di depan terasku ada dua kursi tua yang terbuat dari jati dan letaknya bersebelahan. Aku duduk di kursi sebelah kiri yang dekat dengan pintu rumahku. Aku menengok ke sebelah kanan, ada kamu yang menatap aku. Kita saling menatap sekitar 3 detik.

Lalu pandanganku alihkan ke depan, ke arah kebun buah naga. Perlahan aku berupaya pegang tanganmu, lembut dan hangat, aku bergetar, aku melayang, luar biasa, bahagianya hidup ini.. seakan ingin terus memegang tanganmu seumur hidupku. Sungguh hangat suasana ini. Sekitar 3 menit aku rasakan suasana ini, dan tiba2.. terdengar suara bedug “dug…dug…dug…”.. seakan petir yang menyambar, mengagetkan aku, dan menyadarkan aku. Astagfirullah apa yang aku lakukan.. aku sadar yang ku pegang adalah pegangan kursi yang kasar dan dingin di sebelah kursiku. 
-
Di pasar itu banyak orang-orang yang berlalu lalang dari anak kecil sampai yang tua, laki-laki, perempuan, pengemis sampai orang yang berduit. Ada beberapa gadis yang menurut naluri lelaki enak dipandang karena penampilan dan pakaiannya “menantang”. Gadis-gadis tersebut seolah-olah melihatku sambil mengibaskan rambutnya.

Saat melihat gadis tersebut, tidak lama muncul bayanganmu sambil tersenyum, seperti menasehati anak kecil dengan posisi telunjuk ke atas dan digoyangkan “eh, eh, eh..”. aku pun jadi tersenyum. Celakanya gadis tersebut menganggap aku yang tersenyum padanya hingga dia tersipu malu. Aku pun sadar, malu, lalu dengan segera membalikkan badanku dan memalingkan mukaku. 
-
Aku bingung apa sebenarnya dirimu?  Ilusi? Imajinasi? Ataukah peri? Tapi apapun kamu, kamu selalu menuntunku ke arah kebaikan, bisikanmu tidak terdengar telingaku, rupamu tidak terlihat di mataku. Keberadaanmu datang begitu saja di pikiranku dan mempengaruhi hatiku dan perilakuku… Namun, aku sadar bila terus memelihara ini, lama-lama akan menggeser keikhlasanku dalam beribadah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar