Minggu, 13 Januari 2013

Pengalaman Aku Wisata ke Pantai Carita 25 Desember 2012



Isu mengatakan bahwa tanggal 25 Desember bakalan ada lembur. Kami antusias banget pengen lembur, karena setelah kami kalkulasi secara matematis, yah kami bakalan dapet buat beli persediaan indomie yang banyaklah hehe…  Ternyata semua diluar harapan kami. Lembur hanya berlaku untuk para pegawai lama dan anak-anak tehnikal.
 -
Kami anak management trainee gak dikasih lembur, karena kata atasan, kerja kita masih training dan belum memberi kontribusi yang lebih. Iya sih, kami mengakui bahwa kami kerja masih ikut-ikutan yang lain dengan jobdesk yang kurang jelas, tapi jelas kami berkontribusi walaupun hanya sedikit hehe…
 -
Yang jelas perusahaan gak mau rugi untuk bayar lembur anak-anak MT yang cukup besar. Lembur pun gagal, dan rencana untuk ngumpul bareng sahabat-sahabat dekatku pun telah aku cancel sebelumnya. Ngumpul sahabat gak dapet dan lembur pun gak dapet.
-
Nah, untuk mengobati kekecewaan tadi aku berisiniatif untuk pergi ke pantai anyer. Aku ajak anak-anak kontrakan. Ngeliat tampang mereka madesu semua dan gak tertarik, hanya satu orang yang antusias yaitu Majid si bawel. Kenapa aku bilang Majid si bawel. Nanti aku certain khusus cerita tentang dia. Dalam hati aku, kenapa cuma dia doang yang mau pergi. Klo aku mikirin temen-temen yang lain, aku gak bakalan jadi-jadi pergi ke pantai. Ya sudahlah. Kami belanja dulu malemnya di indomaret. Makanan ringan, minuman dan handuk kecil. 
-
25 Desember 2012, pagi, tanpa pikir panjang, aku dan Majid langsung cabut. Kami brangkat dengan bis jemputan kerja. Orang-orang dalam bis yang mau kerja pada ngeliatin kami. Secara aku naik bis dengan pakaian bola, celana jeans, dan bawa kantong plastik indomaret yang isinya snack-snack. Agak sungkan juga sih, tapi lumayan kan bisa hemat ongkos dan waktu hehe..
 -
Kami turun di depan gerbang kawasan pabrik, lalu meneruskan perjalanan ke pantai dari ciwandan. Sebelum kami naik angkot silver, aku tanya ke Majid, megang uang brapa?. Dia bilang cuma 25rb. Sedangkan aku hanya bawa 60 rb. Aku ragu kemungkinan persediaan uang kita tidak cukup. Makanya, aku suruh Majid ambil uang di ATM bersama BRI.
-
Seperti biasa Majid nanya, “kena potongan berapa yah kalo ngambil di ATM bersama?”.
Pasti bingung kenapa ada tulisan miring kata berapa (Nanti dibahas di cerita tentang Majid).
“Lu ambil berapa?” kata gw. 
-
“50 rb..”. 
-
Padahal gw berharap dia ngambil 100rb. Masih agak sedikit ragu sih tapi Bismillah ajalah. Di deket ATM aku nanya ibu yang lagi gendong anaknya. 
“Bu klo ongkos ke anyer brapa?”. 
-
Eh, dia blang 3000 tapi kalo ke carita beda lagi. Celakanya aku gak bilang berapa ongkos ke pantai carita. Kami stop angkot warna silver. Nah di dalam angkot, kami diskusi tentang tujuan, mau ke anyer atau ke carita. Majid menyerahkan semua keputusan padaku. Kami mengira letak anyer dan carita dekat. Jadi kami punya rencana ke pantai carita dulu baru nanti jalan kaki ke pantai anyer. Kami diturunin oleh si sopir di dekat pantai anyer. Kata si sopir, dia ga nganterin sampe pantai carita. Angkot ke carita ada tandanya MTR. Si sopir pun mentransfer kami ke angkot yang bertanda MTR.
Aku Tanya, “mas ongkosnya brapa?”. 
-
Dia bilang 10rb. Buset dah dia naekin harga. 
-
“Jangan digedein mas 6000 aja, berdua.” aku kasih. 
-
Akhirnya sang sopir malu sendiri karena menaikan ongkosnya. Untung sebelumnya aku nanya sama Ibu tadi sehingga gak ketipu. Naiklah kami ke angkot perak dengan tanda MTR. Sepanjang perjalanan hujan deras banget tapi tetep tidak menurunkan semangat niat pergi ke pantai.
 -
Di jalan banyak terdapat penginapan, vila atau hotel, ada yang namanya penginapan khas bali, Marina, Marbella dan lain-lain. Ternyata jarak Anyer ke Carita jauh juga. Kami menempuh perjalanan 1 jam dari Ciwandan sampe pintu gerbang pantai pasir putih.
-
Masuk gerbang dikenakan biaya 10 ribu tiap orang. Kalo bis mau berapa orang pun bayarnya 600ribu. Aku tanya tukang loketnya. 
-
“Fasilitas apa aja yang bisa kita ambil klo bayar 10 ribu?”. 
-
Si tukang loket bilang dengan santai, “Ga ada.”
-
Namun, aku berpikiran mungkin untuk uang kebersihan dan lain-lain. Tapi nyatanya, masih banyak sampah-sampah berserakan. Mereka beralasan semua itu karena baru saja hujan sehingga pesisir menjadi banyak sampah hasil transfer dari sungai. Memang tarif tersebut harus diberlakukan karena aku mendapat informasi dari tukang perahu, ternyata setiap gerbang/pintu masuk pantai disewakan sebesar 800juta/3tahun.
-
Lupakan tentang loket. Kami ga sabar ngeliat pantai. Wah… luar biasa kami merasakan angin yang sejuk, suara ombak menenangkan jiwa dan sangat ramah, tidak seperti di pelabuhan ratu hehe… Ombak memanggil-manggil kami seraya mengajak untuk bermain. Kami gak tahan lagi pengen ngerasain dinginnya air laut. Kami berlari menuju air laut. Bersentuhanlah kakiku sampai betis dengan air laut.
-
Hal pertama yang aku rasakan adalah…. Perih karena jempol kakiku cantengan hehehe..  Tapi lama kelamaan aku merasa sangat nyaman berjalan di pesisir pantai. Kami jalan-jalan aja dari ujung kanan sampai ujung kiri batas pantai carita. Foto-foto pun gak kami lewatkan haha… Pake kamera hp Majid. Dan ternyata foto-foto aku lebih banyak dari Majid hehehe. Majid nulis nama perempuan yang dia suka di pasir. Untuk urusan itu aku gak ngikutin, coz kesannya alay banget hehe..  
 -
 Banyak yang menjajakan ban renang, selancar busa, banana boat, perahu, makanan otak-otak, emping, pengemis, SPG kartu perdana As, jasa pijat, sewa tikar, sampai pengamen . Nyewa ban 3rb spuasnya, banana boat nawarin 50rb untuk 3 putaran buat 2 orang, beli perdana As 5rb dapet isi pulsa 7rb plus korek api. Aku pengen naek banana boat tapi khawatir dengan uang di dompet hehe.
 -
Lebih dari 5 tukang perahu nawarin kami untuk naik banana boat. Mungkin mereka melihat aku mupeng banget. Kami sampai ngobrol sangat lama dengan tukang perahu. Dia nawarin wisata krakataulah, melihat terumbu karanglah, memacinglah dan lain-lain. Kami bilang saja bahwa kami berkunjung ke pantai Cuma untuk survey ajah hehe..  Seperti biasa, Majid bertanya, dengan kata favoritnya. 
-
Berapa penghasilan Mas biasanya?”. 
-
Si Mas bilang tergantung hari. Klo libur bisa diatas satu juta perhari. Perhitungannya adalah penghasilan sehari dikurangi uang makan kemudian dibagi lima karena satu perahu dipegang oleh 5 orang. Kalau memang cuaca buruk atau keadaan sepi, Si Masnya biasanya memanfaatkan waktu untuk mencari ikan.
 -
Saking deketnya si Masnya menawarkan kami hanya membayar 10 rb, tapi harus ngajak 10 orang yang lain. Wah, banana boat berbau MLM nih hehe.. kami tolaklah tawaran baik si Tukang perahu itu. Niat kami kan mau refreshing. Aku udah niat sih mau berenang. Tapi aku tahan dulu, karena pantainya masih kotor bekas hujan. Jadi aku niatkan untuk berenangnya siang hari. 
-
Sambil menunggu siang kami berjalan menyusuri pantai. Ternyata pintu masuk pantai ada bermacam-macam namanya. Keliatan banget yang berenang beda-beda kalangan. Jadi kalo di wilayah tengah pantai carita yang ada berderet tempat menginap seperti asrama itu masuk kawasan orang-orang menengah ke atas, tapi kalo di pinggir kanan atau kiri orang-orang menengah ke bawah.
-
Tapi para penjual lebih banyak di kawasan kanan dan kiri karena pengunjungnya banyak sedangkan wilayah tengah yang berenang di pantai hanya orang-orang yang menginap saja, jadi lebih sepi. Nah, ada kejadian yang buat aku kesel. Aku lewat jembatan bamboo dengan lebar 1 meter dan panjang 5 meter untuk menyebrang sungai kecil yang akan masuk ke laut. Setelah aku lewat jmbatan itu, ada orang berbaju merah nyamperin dengan nyolot. 
-
“lewat jembatan perorang 2rb.”
-
“Nyari duit yang halal Mas jangan kayak preman gini.” Kataku.  
-
“ini juga halal.” Kata dia.
-
Aku ga mau ambil panjang urusan ini, itung-itung sedekah aja.
Aku bilang ke Majid yang ada di belakang. “Jid jangan lewat jembatan, lewat pesisir laut aja”.
-
Saat aku mau ngasih 2rb. Eh, Majid lari nyamperin aku lewat jembatan. Dengan santainya Majid bilang “ada apa boy?”. 
-
Dalam hati gw, jid ngapain sih lu ikut-ikutan, gw jadi nambah 2rb lagi deh. Melihat kedatangan Majid. Datang lagi orang berbaju biru teman orang baju merah. Dia menekankan kami untuk bayar.
Aku kasih 5rb dan bilang “ambil aja sisanya.” 
-
Mereka bilang makasih. Sedangkan gw masih mikir kok msh ada orang-orang yang kayak gitu. 
“Sabar boy, rezeki gak akan kemana” Majid bilang ke gw. 
-
“Iya…” kata gw. 
-
“Sabar boy… “ sambil nepuk punggung gw. Gak hanya dua kali, tapi lebih dari 3 kali dia bilang sabar ke gw.
Sampe gw jadi gak sabar lagi, dan bilang ke dia dengan agak kesal, “kalo lu bilang sabar terus, gimana gw bisa nikmati liburan jid…”. 
-
Dan Majid menjawab sambil menepuk pundak gw, “Ok, sabar boy…”. 
-
Hemph rasanya pengen gw celupin kepala Majid ke laut atau nimbun dia di dalam pasir… 
-
Matahari sudah tepat diatas kepala dengan sedikit berawan. Kami menyewa tikar sepuasnya 5rb rupiah dengan ukuran 2x2 meter karena gak tega si Ibu yang jualan ngikutin terus. Kemudian Majid memilih solat Zuhur di mushola dan bayar 2rb untuk wudhu di kamar mandi sedangkan aku solat di tepi pantai dan wudhu langsung di laut, gratis hehe.. 
-
Kami siap untuk berenang yeah… gw nyewa slancar busa 10rb. Gw seneng karena gw udah nawar yg tadinya 15rb. Pas udah gw bayar. “Majid bilang, tadi ada yg nawarin 5rb.”
Sial…, Majid ga ngasih tau gw, padahal pas lagi tawar menawar dia ada di pinggir gw dengerin. “udah sabar aja,,” kembali Majid bilang itu berkali-kali. Gw ga bisa berkata-kata lagi. Selama kami tidur-tiduran di tiker banyak penjual yang menawarkan dagangan, ada yang nawarin otak-otak. 
-
“De mau otak-otak?”. 
-
“Maaf Bu, saya udah punya di dalam kepala saya, hehe..”. 
-
Ada yang nawarin emping. “De empingnya, De… murah..”. 
-
“Engga ah Bu, kalo empang saya beli, hehe..”. 
-
 Ada juga yg nawarin tato. “bang mau di tato, pke nama chelsea?” kata tukang tato. Mentang-mentang aku pake baju bola Chelsea. 
-
“yah, Bang klo Chelsea Olivia pacar saya, saya tato deh hehe.” 
-
“gimana klo nama pacarnya?” 
-
“wah kalo itu udah terukir di hati saya hehe..” *Jago ngeles. 
-
“Nama calon mertua aja Mas?”, kembali menawarkan. 
-
“Bingung Mas, calon mertua yang mana hahaha…, Udah ah Mas, saya memang gak suka di tato hehe..”. Akhirnya tukang tato pergi juga. 

Ada juga tukang pijit, “De pijit yah, ama ibu…” Masang wajah memelas.
-
“Engga ah Bu, gak biasa di pijit”. Si Ibu mendekati gw sambil pegang-pegang pundak gw. Wah, ini mulai serem. 
-
“Bu Maaf, beneran… saya memang gak suka dipijit-pijit..”. 
-
Akhirnya si Ibu itu pun pergi. Sebenernya saya suka aja sih dipijit hehe.. tapi ada dua faktor yang jadi pertimbangan, pertama, keadaan diri memang lagi lelah dan butuh di pijit. Kedua, orang yang memijitnya hehe..
Majid berenang di laut duluan sedangkan aku jaga barang-barang. Aku kenalan sama keluarga yang pake baju merah semua. Aku pikir mereka kader PDIP hehe... Aku sedikit mengobrol dengan keluarga tersebut. 
-
“Bu sudah biasa jalan-jalan ke pantai bareng keluarga yah…” tanyaku yang melihat satu keluarga yang terdiri dari 1 orang ibu, 1 orang bapak, 2 gadis manis, dan 1 bocah lelaki berumur sekitar 6 tahun. 
-
“Iya kami biasanya jalan-jalan tiap dua minggu sekali.”
-
“Asalnya dari mana Bu?”
-
“Dari xxxxxxxx (lupa lagi..). Ade dari mana asalnya?”
-
“Aku dari Bogor Bu, tapi kerja di Cilegon. Masih training sih, baru 3 bulan hehe… ke sini refreshing aja hehe…”
-
“Oh, kerja di KS yah…”
-
“Iyah… (Sebenernya bukan di KS-nya tapi di Kawasan KS hehe…)”
-
“Oh gitu… Ade kelahiran berapa?”
-
Kaget juga aku ditanya umur, apa maksudnya yah… hehe…
“Menurut Ibu, saya kelahiran tahun berapa? Hehe”
-
“Kayaknya sih 90an yah..”
-
“hehehe,,,”
(Yes….) dalam hatiku. Emang wajahku selalu terlihat 2 tahun lebih muda hehe…
-
“Anak Ibu yang paling gede itu, kelahiran 91”, sambil nunjukin anak gadisnya.
Wah si Ibu langsung nawarin anaknya hahahaha… 
-
“Oh, gitu kuliah yah bu…”
-
“Iya, ngambil keguruan ngikutin Ibunya.”
-
“hemph…”. Majid pun datang, dan dia mempersilahkan aku untuk berenang. Gantian dia yang jaga barang-barang.
-
“Oh, iya Bu. Saya ada snack nih…”. Aku ngasih snack Qtela ke anaknya yang paling kecil.
Si anak agak malu, tapi si Ibu menyuruhnya untuk mengambil dan mengucapkan terima kasih. Dan aku lihat keluarga tersebut doyan makan snack Qtela sampe semuanya menikmati. Sampai akhirnya aku kasih satu bungkus lagi hahaha..
-
Akhirnya aku pun berenang dan merasakan segar dan dinginnya ombak. Seluruh penat, kesal, galau, ataupun yang berbau negative hilang terbawa ombak. Kalau untuk berenang bersama ombak recommended banget nih pantai soalnya gak ada karang-karang yang berbahaya. Tapi kata penjaga pantai usahakan jangan lebih dari 10 m dari garis pantai terluar karena bisa terbawa ombak atau bisa tertabrak perahu yang berlalu-lalang.
-
Tadinya kami berencana untuk melihat sunset. Tapi kami sudah sangat puas dengan berenang di laut. Akhirnya kami pulang habis Sholat Ashar. Kami naik angkot yang langsung ke Cilegon. Perjalanan pulang cukup jauh. Majid sampe curhat sepanjang perjalanan pengalamannya tentang bisnis, tugas akhir, dan perempuan yang dia suka. Bukan cewe aja kan yang suka curhat-curhatan hehehe.. 
-
Kami sudah sangat lelah hingga tak bisa menawar lagi ketika si supir angkot bilang ongkosnya 40rb. Gila bener, tuh ongkos bisa sampe ke Jakarta seharusnya. Kami turun di Mesjid Agung dan Sholat Magrib di sana. Kemudian melanjutkan kembali perjalanan ke kontrakan.
 -
Sesampainya di kontrakan, aku langsung masang wajah senang dan puas supaya yang lain nyesel tadi gak ikut pergi hahaha… Besok harinya kami masuk kerja. Bener-bener luar biasa efeknya. Jadi lebih semangat menghadapi hari. Tapi kulit muka agak perih yah… Lalu aku bercermin. Mukaku berubah menjadi merah… Hemph…   

Peta Lokasi Pantai Carita 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar