Senin, 24 Desember 2012

Jika Berusaha dan Berdoa pasti Sukses




Namaku Cecep. Dari namaku kalian bisa tebak aku berasal dari suku mana dan daerah mana. Aku berasal dari suku betawi, Jakarta (tapi boong hehe..). Iya, kalian akan bisa menebakku. Benar, aku tentunya berasal dari suku sunda dan tempat tinggalku di Bandung, Jawa Barat. Ibuku seorang guru SMA sedangkan Ayahku seorang guru SMP sekaligus pembina pramuka.  

 Aku berasal dari keluarga sederhana, sedangkan saudara-saudaraku yang lain memiliki kehidupan yang lebih baik dariku dari segi ekonomi. Aku sering menangis karena selalu diejek oleh sepupu-sepupuku. Bagaimana tidak, ketika sepupuk-sepupuku menggunakan mainan yang begitu update dan canggih seperti pistol-pistolan yang dapat berbunyi dan mobil-mobilan yang dapat bergerak sendiri, aku hanya main-mainan tradisional yang dibuat sendiri, seperti pistol-pistolan yang dibuat dari dahan pisang, mobil-mobilan yang dibuat dari bambo yang dihubungkan dengan karet gelang yang bannya berasal dari sandal jepit yang dibentuk atau kaleng susu cair.

Dalam kondisi ini, aku sangat sedih dan tentunya orang tua ku pun jadi ikut sedih, dia menasehatiku untuk menjadi anak yang pintar dan dapat rangking 1 agar bisa beli mainan yang lebih bagus suatu saat nanti. Aku termotivasi saat itu juga, sehingga ketika SD aku selalu masuk rangking lima besar, bahkan saat SMA aku tak pernah melepaskan gelar rangking 1 ku. Walaupun saat itu, rangking 1 bisa lebih dari satu orang hehe.. 
-
Orang tuaku mendidikku dengan disiplin, tegas, dan penuh perhatian. Aku tidak boleh keluar rumah diatas jam 6 sore, bahkan untuk pergi ke rumah nenek yang jaraknya hanya 20 meter pun tidak boleh. Kecuali, aku disuruh untuk pergi ke warung. Bahkan untuk memperhatikanku, orang tuaku memasang telepon rumah.

 Saat itu, pemasangan telepon rumah sangat mahal, orang tuaku bayar sangat mahal karena Telkom perlu membuat jalur baru dengan membuat tiang-tiang penghubung. Keluarga kami pelopor penggunaan telepon di daerah kami saat itu hehe.. (banggalah..). Tetangga kami pun terkadang meminjam telepon kami.

Dan curangnya ketika jalur telkom sudah terinstalasi di daerah kami, tetangga-tetangga kami memasang telepon dengan harga jauh lebih murah. Tujuan dipasangnya telepon tidak lain adalah untuk memantau segala aktifitasku. Waktu itu memang belum ada handphone seperti sekarang. Aku harus menelfon lewat telepon umum ke rumah setelah pulang sekolah, aku tidak diizinkan untuk main kemana-mana lagi.

Aku harus langsung pulang ke rumah secepatnya. Sempat kecewa juga karena gak bisa seperti temen-temen lain yang bisa pergi kemana-mana untuk pergi ke tempat makan, mall, dan bioskop. Hiburan ku sehari-hari di daerah dekat rumahku adalah melihat penggalian untuk pemasangan tiang-tiang Telkom. 
-
Aku pernah nekat, aku ingin menonton bioskop walaupun satu kali seumur hidup (lebay yah..hehe..). Maklum, aku merasa malu karena sudah SMA aku belum juga pernah nonton bioskop. Uang jajanku 1000 setiap hari, aku tabung tiap hari, aku bela-belain gak makan demi masuk ke dalam bioskop. Akhirnya setelah satu minggu aku menabung, uangku cukup untuk menonton bioskop. Ada kenikmatan yang luar biasa setelah selesai menonton bioskop.

Walaupun setelah pulang dari sana, aku dimarahin sama orang tuaku :-p hehe.. Bukan berarti aku tidak punya teman sama sekali di sekolah. Aku pun berusaha ikut kegiatan sekolah. Aku ingin ikut pasukan baris-berbaris. Tapi aku gagal dalam proses seleksinya karena tinggi badanku tidak mencukupi, (hiks.. hiks..). Oleh karena itu, aku aktif di kegiatan pramuka yang terinspirasi dari ayahku yang seorang pembina pramuka.
-
Aku mendapatkan PMDK masuk IPB, diterima di jurusan industri pertanian. Pengetahuanku tentang perguruan tinggi sangat minim sehingga aku kira IPB itu singkatan dari Institut Pasundaan Banget karena yang terfikir olehku adalah Bogor merupakan daerah suku sunda jadi yang bakalan kuliah disana adalah orang-orang sunda semua, dari Cianjur, Cimahi, Bandung, Sukabumi, dan lain-lain.

Aku sangat takut sekali jauh dari orang tua. Orang tuaku mengantarku sampai Bogor. Orang tuaku menyediakan tempat kosan yang cukup mewah dengan ruangan yang luas dan tersedia juga televisi. Orang tuaku ingin aku betah tinggal di Bogor. Orang tuaku mendampingiku daftar di GWW. Mereka meninggalkan aku begitu saja disana seperti membuang kucing lalu lari (Majas hiperbola hehe…).

Aku berlari ke kosan dan berharap mereka masih ada di sana. Ternyata aku tidak menemukan siapa-siapa disana. Yang tersisa adalah secarik kertas dari ibuku yang memberi nasehat padaku. Aku yakin ibuku menulis sambil meneteskan air mata. Ia sebenarnya tak sanggup melepaskan kepergianku dan dia khawatir aku akan sangat sedih.

Ini mirip sinetron tapi ini kenyataan dan memang terjadi. Aku berada di kosan dalam keadaan sangat hampa dan sepi, hati dan perasaanku sangat kosong. Aku seakan berada di dalam kubur yang sempit yang tidak ditemani oleh siapa pun. Aku pun menangis dan teriak “Aku ingin pulang, ibu….”. Mungkin tetangga mendengar teriakan aku, tapi aku tidak peduli. Aku pun tidak peduli tentang kuliah pertama besok hari.

 Aku berlari ke terminal barenang siang, karena aku gak kuat berlari sampai sana, aku naek angkot aja dengan tergesa-gesa. Sesampainya di terminal barenang siang aku langsung mencari bis jurusan ke Bandung. Syukurlah, aku mendapatkan bis terakhir pukul 12 malam. Aku pastikan dulu penghuni bisnya adalah manusia dengan melihat kakinya menapak atau tidak.

Syukurlah semuanya manusia. Aku memiliki jiwa penakut sebenarnya, tapi untuk urusan pulang ke rumah hal itu bisa terbaikan. Bis yang aku tumpangi adalah bis ekonomi tanpa AC yang dijejali oleh banyak orang. Aku tak dapat tempat duduk, tapi justru itu nikmatnya, aku lebih senang memegang pegangan atas dan bergelantungan di dalam bis.

Tapi tolong jangan bayangkan aku bergelantungan seperti monyet yah,, hehe..  Sesampainya di rumah aku langsung memeluk ibuku dengan erat sambil menangis (hiks..hiks..). Dia mengelus-elus kepalaku, sambil menasehatiku agar aku lebih berani lagi menghadapi semuanya. Melihat senyum ibuku, aku menjadi lebih tenang. Dia pun meyakini ku bahwa dengan usaha yang perih akan menghasilkan kebaikan suatu hari nanti.
-
Sekembalinya di kampus, di awal-awal kuliah orang tuaku memberi uang bulanan yang jumlahnya cukup besar. Aku baru merasakan uang yang begitu banyaknya sehingga bodohnya aku yang manfaatkannya untuk senang-senang karena dulu saat SMA, aku merasa banyak terkekang. Masa kuliah adalah masa dimana aku merasa sangat bebas.

Aku banyak jajan dari uang yang diberikan orang tua. Beli makanan yang enak lebih penting dari pada beli buku. Aku banyak mencoba makanan-makanan yang belum pernah aku coba seperti seperti KFC, McD, Paparons, Pizza, apple pie, dll. Aku pun banyak menggunakan uang tersebut untuk bermain seperti dingdong, fun city, timezone, taman topi, kebun raya dan yang lainnya. Hasilnya uang yang tersedia habis dalam waktu satu minggu.

Tidak cukup dengan nasib tersebut, aku pun masuk kedalam golongan Nasakom, nasib satu koma. IP tingkat pertamaku 1.69 dan 1.98. Rektorat pun mengirim “surat cinta” kepada orang tuaku sehingga orang tuaku menyuruhku rutin pulang ke Bandung, uang bulanan pun tidak diberikan lewat ATM melainkan harus langsung mengambil ke Bandung agar orang tuaku dapat selalu menasehatiku. 
-
Aku melihat banyak anak-anak daerah, baik yang asalnya dari Jawa atau pulau seberang, yang datang ke IPB dengan sederhana. Bahkan ada yang datang sendiri tanpa keluarga dan hanya membawa pakaian yang sedikit serta kaki yang beralaskan sandal jepit. Hal ini menyadarkan aku bahwa kesepianku saat itu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Serta aku menyadari betapa buruknya diriku yang berfoya-foya dengan titipan uang orang tuaku.
-
IP jelek disemester-semester awal juga bukan semata-mata karena aku hanya bermain di masa kuliah loh.. Karena aku ikut banyak organisasi, yaitu DKM, BEM, dan pecinta alam. Sebenarnya ga bisa jadiin alasan juga sih… hehe.. karena semuanya sebenarnya masalah managemen waktu dan pikiran yang belum bisa diatur dengan baik.

 Selanjutnya, aku mendapat IP 2.1 dan 2.2. Masih jelek, sehingga aku mengurangi kegiatan dengan terfokus pada kegiatan pecinta alam saja. Nah, di dalam pecinta alam ini, aku digembleng dari segi mental. Aku pernah di test dibuang di Sukabumi selama 3 hari. Tantangannya adalah aku harus mencapai Bogor dalam waktu 3 hari tanpa memegang sepeser pun uang. Aturannya adalah tidak boleh minta uang ke orang lain.

Aku berusaha melamar perkerjaan untuk 2 hari saja di sepanjang jalan. Aku banyak ditolak rumah makan karena sudah ada pencuci piringnya. Untungnya ada rumah makan Padang yg baik menerima aku. Aku mencuci piring di rumah makan tersebut hingga mendapatkan ongkos untuk pulang ke Bogor. Aku ga bisa berbuat curang karena aku diawasi oleh senior. Akhirnya aku menerima uang untuk ongkos pulang ke Bogor (Yeah..).

Aku pun mendapat banyak pelajaran dan pengalaman bagaimana bisa hidup di alam liar. Sehingga aku bisa bertahan hidup di hutan karena aku tahu apa saja yang bisa dimakan disana. Udah gak aneh lagi jika aku pernah memakan dedaunan, bunga-bungaan, serangga, ulat, hingga kupu-kupu. Aku merasakan solidaritas yang kuat dan merasakan hidup prihatin di sini.

Aku sangat menikmati keberadaanku di sini. Saking cintanya, aku sampe jadi PGT (penghuni gelap tetap) di sekret pecinta alam hehe..  Akhirnya aku bisa jalan-jalan ke seluruh Indonesia untuk menaiki gunung. Aku sudah banyak mendaki gunung-gunung tertinggi. Hanya satu yang belum aku daki, yaitu puncak Jayawijaya.

Terkadang perjalanan tersebut tidak direncanakan, jika memang ingin jalan, ya langsung saja jalan dan gak peduli ada uang atau tidak di kantong. Aku masih aktif hingga saat ini di pecinta alam IPB sebagai jaringan alumni atau membantu membina. Aku pun mendapat istri di organisasi ini hehe... Satu tahun di organisasi ini, ga boleh pacaran.

Tapi setelah itu aku pacaran. Pacaran berlangsung selama 4 tahun. Selama pacaran hal terdekat yg aku lakukan adalah hanya pegangan tangan (loh, kok jadi curhat..hehe). Aku hanya pacaran 1x seumur hidup. Setelah aku nikah sebenarnya aku sedikit nyesel juga kenapa aku dari dulu ga banyak pacaran untuk banyak karakter wanita (Pikiran lelaki hehe..).

Tapi setelah punya 2 anak, aku gak menyesal lagi hehe.. dan aku tambah bahagia. Selama kuliah juga aku jadi pembina pramuka di suatu SMA. Nah, ada gadis yang bernama Bunga dekat dengan aku. Dia manis dan mirip boneka. Jujur saja dulu aku naksir ama dia hehe.. (Pikiran lelaki padahal udah punya pacar).

Aku lebih menganggapnya adiklah dan dia menganggap aku kakak. Keluarganya broken. Bapaknya bercerai dengan Ibunya. Bapaknya menikah lagi dan Ibunya juga menikah lagi. Lalu kejadian yang sama terulang. Ibunya dikhianati oleh suaminya yang baru. Akhirnya ibunya stress. Bunga tinggal bersama neneknya. Aku membantu membiayai dia hingga lulus dan kuliah tingkat 1, setelah itu dia menghilang dan kami lost kontak begitu saja.
-
Sampailah aku di tingkat akhir kuliah. Akhirnya IP semester terakhir yang aku dapatkan 3.87 dan 3.68. Aku baru sadar di semester akhir, ternyata aku sebenarnya pintar. Aku pun menyesal kenapa gak dari semester awal aku lebih serius belajar. Aku gak tahu pentingnya IP. Pikiranku dulu, lulus kuliah sama aja kayak lulus SD, SMP, dan SMA. IPK aku di bawah 2.7.

Sungguh sangat sulit mendapatkan pekerjaan dengan IPK tersebut. Beratus-ratus ku lamar pekerjaan tapi tidak ada panggilan. Aku pun menyiasati dengan tidak pernah menyatakan IPK dalam melamar pekerjaan. Akhirnya, aku dipanggil oleh beberapa perusahaan hehe.. Pernah dapat panggilan diterima wawancara, mereka terlihat tertarik denganku, tapi ketika mereka tanyakan IPK kepadaku, kemudian aku mengatakan yang sebenarnya, ekspresi mereka berubah dan akhirnya aku tidak diterima.

Aku pernah ditolak Unilever, McD, dan lain-lain. Jelas saat itu aku baru menyadari bahwa IPK itu sangat penting dan merupakan pintu gerbang menuju suatu pekerjaan. Aku kemudian mengisi waktu dengan bekerja di rental. Aku isi waktu dengan jadi pekerja rental yang selanjutnya dijadikan manager tempat rental.

Perusahaan rental ini tersebar di seluruh Indonesia sehingga aku pernah ditempatkan di Bekasi, Lampung, Manado, dan Gorontalo. Di Gorontalo ini, aku sempat ikut zikir Arifin Ilham. Aku disuruh berdoa, apa yang aku inginkan. Aku waktu itu, berdoa ingin menjadi pemimpin perusahaan dengan anak buah yg banyak.
-
Selanjutnya, ada panggilan dari Garudafood. Di GF sudah tidak ditanyakan masalah IPK tapi pengalaman. Aku sudah berpengalaman 2 tahun jadi manager rental. Aku langsung di wawancarai oleh user. Awalnya aku diterima hanya sebagai admin. Eh, tak lama ada posisi supervisor yang kosong di bagian produksi.

Akhirnya aku dipromosikan diposisi tersebut (Alhamdulillah..). Bersaing dengan supervisor yang ber-IPK di atas 3 dan ternyata kinerjaku bagus karena aku lebih dekat dengan bawahan. Ilmu kepedulian dan koordinasi aku dapatkan dari organisasi-organisasi di kuliah. Oleh karena itu, keikutsertaan dalam organisasi dalam perkuliahan juga penting. Anak buah aku adalah 90 wanita dan 30 pria.

Ada juga gossip yang beredar hehe…  90% supervisor biasanya nikah oleh pekerja tersebut. Aku menyadari ternyata doaku memang bener-benar terkabul (Subhanallah). Dunia pekerjaan sungguh berbeda dengan dunia kuliah. Pernah terjadi suatu friksi antara aku dengan supervisor QC. Aku menyuruh anak buahku menyalakan alat produksi sedangkan dia menyuruh anak buahnya mematikannya.

Mesin pun jalan-mati-jalan-mati dan seterusnya. Berhubung anak buahku lebih seram, jadi anak buah supervisor QC tersebut takut hehe.. Mesin produksi jalan. Dia gak bisa terima dan akhirnya terjadi lempar-lemparan jelly drink hehe… Kasihan juga, cleaning service dan anak buah jadi yang paling menderita hehe… Kami pun sadar dan menyelesaikan dengan diskusi. Lucunya setelah pulang kerja kami ngobrol bareng seperti biasa yang seolah tidak terjadi apa-apa dan memang kami tinggal di lingkungan kost yang sama.

 Inilah yang disebut dengan kedewasaan bersikap.
Setelah 4 tahun bekerja disana, aku resign. Pengalamanku jadi supervisor di perusahaan besar membuatku sangat mudah mendapat panggilan kerja. Aku melamar 10 perusahaan dan 9 perusahaan menjawabku. Aku memilih bekerja di bagian packing cusson baby Tangerang lalu menjadi supervisor PPIC (Product Planning and Inventory Control) selama 1 tahun. Kemudian aku pindah kerja lagi ke Bandung, ke perusahaan yg memimpin 50 restoran.

Aku memilih pekerjaan ini karena aku ingin menemani ibu di usia yang tuanya. Di perusahaan restoran tersebut aku kembali menjadi PPIC. Ternyata supervisor dan GM hanya lulusan SMA. Mereka adalah anak emas pemilik perusahaan tersebut. Mereka banyak tidak tahu mengenai managemen perusahaan, seperti GMP, ISO, HACCP, dan 5S .

Keberadaanku disana bagaikan ancaman bagi mereka. Oleh karena itu, aku dipindahkan menjadi supervisor gudang. Di gudang aku di zalimi suruh jadi kuli ngangkat barang, jadi OB, bahkan cuci piring. Aku terima saja karena gajiku masih gaji supervisor. Waktuku bekerja lebih lama bahkan waktu libur dan hari raya harus bekerja sampai-sampai anaku tak bisa melihatku.

Aku berangkat kerja, anakku masih tidur dan aku pulang kerja, anakku sudah tidur. Aku mencoba bertahan di perusahaan tersebut walaupun tekanan banyak ku hadapi. Aku yakin dengan seperti itu aku akan menjadi lebih kuat lagi. Aku pernah menyelesaikan masalah selisih yang terlalu besar di dalam gudang yang dapat merugikan perusahaan.

Namun, hal tersebut tidak membuat aku diperlakukan lebih baik. Aku berfikir, buat apa aku bertahan di sini jika aku terus diperlakukan seperti ini. Akhirnya aku putuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain secara diam-diam. Aku ambil cuti selama seminggu. Selama aku tidak masuk, urusan mengenai pergudangan berantakan.

Bos ku menelfon ku secara lembut, merayuku untuk segera masuk kerja dan menyelesaikan lagi masalah gudang. Aku pun menemuinya sambil menyerahkan surat resign. Sebenarnya aku menunggu dia mengucapkan memohon padaku untuk menyelesaikan masalah dulu. Tapi justru aku diusir secara kasar, padahal aku tahu masalah itu sangat mudah untuk diselesaikan. Aku pun keluar dengan senyuman. Sekarang aku bekerja di perusahaan tepung terigu dan menjadi supervisor warehouse.
-
Menjadi seorang supervisor tidak menjadikan kehidupanku tenang dari masalah ekonomi. Yups, pengeluaran saat berkeluarga memang besar, cicilan rumah, biaya hidup sehari-hari, dan masih banyak lagi. Aku punya 3 kartu kredit bank. Bank-bank tersebut menagihnya setiap hari. Aku merasa penuh tekanan. Bahkan aku sampai minjem uang anak buahku.

Gajiku datang serasa sangat lama dan pergi sangat cepat. Aku meningkatkan ibadahku dan banyak dengerin ceramah Ustad Yusuf Mansur untuk bersedekah. Bersedekah akan bisa menolong masalah ekonomi. Aku memaksakan untuk bersedekah setiap jumat 50ribu dan hanya menyisakan sepeser uang dikantong. Aku lakukan itu selama 1 bulan. Aku hampir pesimis, ternyata pertolongan Allah tidak datang. Aku menyerah dan pasrah, bank bisa menyita aset yang ku miliki atau memenjarakanku.

Suatu hari, aku di telfon oleh Bank A, dia memberi batas waktu 1 minggu pembayaran. Lima menit kemudian Bank B menelfon dan memberi batas waktu yang sama. Aku semakin stress. Beberapa detik kemudian hpku kembali berdering. Nomor hpnya tidak dikenal. Aku yakin ini dari Bank C. Rasanya ingin mengabaikannya. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah juga. Aku angkat telfonnya dengan ekspresi datar. Aku mendengar suara wanita dengan sangat ramah. Dia bahkan menyuruhku untuk menebak siapa dia.

Aku tak mengenal suaranya. Dia pun mengenalkan dirinya, bahwa dia adalah Bunga. Dia meminta maaf karena menghilang tanpa mengabarkan. Sekarang dia hidup bahagia di Jakarta. Dia meminta rekeningku entah untuk apa. Satu jam kemudian Bunga SMS kepadaku bahwa untuk cek apakah sudah masuk. Aku keluar pabrik untuk mengecek ATM.

Kaget luar biasa, uangku bertambah 75 juta. Aku langsung menelfon Bunga, takut kebanyakan ngasihnya. Bunga konfirmasi bahwa dia memang mengirim 75 juta. Dia sangat berterima kasih sekali karena aku telah menolongnya dulu. Sekarang dia sudah berkeluarga dengan pengusaha yang sangat kaya. Keajaiban sedekah belum berakhir. Aku membantu mempromosikan/mengiklankan rumah orang tua istriku di Bogor.

Rumah tersebut laku seharga 1 milyar. Ini diluar ekspektasiku, padahal kami bersedia melepasnya dengan harga 600 juta. Alhamdulillah, sekarang aku tidak perlu memikirkan cicilan rumah bahkan aku bisa membeli mobil yang aku cita-citakan. Ternyata semua kejadian yang aku alami sampai ini tidak lepas dari apa yang aku rencanakan sebelumnya.

Semasa kuliah dulu aku punya target nikah diumur 24-26, menjadi manager di umur 34-36, dan menjadi usahawan di umur 44-46. Sekarang aku berusia 34 tahun dan cita-citaku menjadi seorang manager akan terwujud karena pabrik yang ku tempati sekarang melakukan perluasan dan aku sudah memenuhi semua kualifikasinya. Aku pun masih berusaha menuju targetku selanjutnya. Kalian bisa ambil hal-hal positif dari ceritaku.. hehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar