Jumat, 19 Oktober 2012

Preman di dalam Bis




Hari ini Ana akan melakukan interview di suatu perusahaan. Dia telah menyiapkan segala sesuatunya, dari yang dia kenakan (pakaian yang rapi) sampai apa yang ada di tasnya (ijazah dan segala jenis kertas-kertas yang mendukungnya). Dia pun berangkat sangat pagi tanpa sarapan. Dia juga telah mempelajari arah dan transportasi apa saja yang menuju tempat interview dengan cara googling, melihat google map, dan bertanya kepada teman-temannya. 
-
Ternyata berangkat pagi tidak bisa menghindarkan dia dari keadaan bus yang sangat padat dengan intesitas oksigen yang sedikit, serta panas. Belum lagi di tengah perjalanan ada tamu tak diundang.
-
“Langsung aja yah, ibu-ibu dan bapak-bapak.., kita sama-sama orang Indonesia, kita sama-sama butuh makan, lebih baik kita saling tolong-menolong aja, saya butuh makan siang hari ini, jadi saya minta Ibu-bapak sebaiknya mengeluarkan uang untuk saya, kalo tidak... saya akan mengeluarkan pisau saya”


Orang-orang pun memberikan uang kepada pemuda itu. Lelaki yang berbadan lebih besar pun mengeluarkan uang kepadanya. 
-
“Gila,, lu cuma ngasih duit seribu? buat apa duit seribu?”, mulai menodongkan pisaunya pada seseorang yang cuma ngasih seribu. Orang tersebut kemudian menambahkan pemberiannya.
-
“Maaf Ibu-ibu ternyata uang yang saya kumpulkan kurang, jadi saya harap Ibu-Bapak mengeluarkan uang lagi..” Gila tuh pemalak melakukan tagihan lagi.
-
Sudah cukup uangnya, dia pun keluar. Setelah pemalak tersebut keluar, gak lama ada pemalak yang lain dengan motif yang sama melakukan pemerasan. Sedangkan sang supir Bus dan kernetnya pun hanya bisa terdiam, karena takut nyawanya melayang. 
-
Baru pertama kali, Ana merasakan diperah di dalam Bus, ups… maksud saya diperas dalam Bus. Dia pun jadi teringat keberadaan ayahnya yang bekerja sebagai polisi. Andai ayahnya ada di sisinya pasti pemalak tersebut sudah habis dihajarnya, atau diborgol, atau dipenjara, atau ditembak. 
-
Ana sangat menderita sekali berada di bus itu. Ana bertubuh kecil dan berkaki pendek (Jangan bayangkan dia sebagai kurcaci karena itu terlalu lebay).  Jadi, ketika dia duduk di kursi bus, bagaikan makan buah simalakama, dia susah mengatur duduknya. Kakinya tidak menyentuh lantai, ini membuat kakinya menjadi pegal.

Ketika dia paksakan kakinya menyentuh lantai, posisi punggung yang tadinya nyaman bersandar bergeser menjadi agak kurang nyaman sehingga lama-kelamaan dia merasa punggungnya pegal. Ana pun berkeringat dingin karena perutnya merasa mules dan ingin BAB, sempurnalah perjalanan yang sangat menyedihkan… 

1 komentar: