Jumat, 12 Oktober 2012

Pengaruh Lagu



Setiap orang punya kesukaan lagu tertentu, misalnya lagu pop, dangdut, rock, metal, reagee, disco, atau apalah… tapi tentunya orang pun biasanya punya ketidaksukaan terhadap lagu tertentu, baik itu gara-gara liriknya gak jelas, nadanya dibilang pasaran, ataupun tampang-tampang atau penampilan grup bandnya yang enggak banget. Begitu pun dengan saya, saya gak suka lagu Hello yang klo gak salah judulnya ular berbisa… bener gak yah?? Pokoknya gw gak suka karena lirik lagunya itu selalu diulang-ulang terus dan menurut gw gak kreatif banget. Inilah liriknya: “… seperti ular-seperti ular. Yang sangat berbisa-sangat berbisa. Suka memangsa-suka memangsa. Diriku terjerat cinta… aku tertipu, aku terjerat, aku terperangkap muslihatmu 2x..”  Bener gak? Tapi karena saat itu lagunya sering diputar di radio atau televisi. Maka tanpa sadar saya nyanyi lagu tersebut. Wah, itulah efek dari lagu yang sering diulang-ulang yang tanpa sadar masuk otak kita sehingga otomatis saya pun agak hafal lagunya… Pernahkan kamu mengalaminya… 
-
Selain itu, ternyata lagu itu bisa mempengaruhi perasaan kita. Ketika kita sedih, untuk mengembalikan rasa senang maka kita dengarkan lagu yang gembira. Ketika kita lemas, kita dengerin lagu yang semangat maka kita jadi semangat. Tapi terkadang kita justru mendengarkan lagu sedih ketika kita sedang sedih. Hasilnya tambah sedih deh. Atau bahkan yang tadinya gak galau, ketika dengerin lagu yang galau jadi inget kegalauan dan akhirnya terjebak dalam kegalauan masa lalu hehe… Ngomong-ngomong soal galau. Menurut gw lagu tergalau di dunia adalah butiran debu dari Rumor. Liat liriknya,
-
Namaku cinta ketika kita bersama, berbagi rasa sepanjang usia. (bagian ini sungguh membahagiakan, kita merasa melayang senang, terbang menuju galaksi Andromeda)
-
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lamunan luka dalam… (Bagian ini sangat menyedihkan seakan kita tenggelam sangat dalam magma di pusat bumi). 
-
Ditambah lagi dengan kata yang sangat-sangat memilukan dan seolah ingin mati besok. “Aku tanpamu butiran debu..”. Gila menganggap diri butiran debu… Debu yang merupakan koloid dengan fase terdispersi padat dalam medium pendispersi gas, yang hanya melayang tanpa arah hanya mengikuti angin yang berhembus. Atau dia menganggap debu itu suci karena bisa dipakai tayamum, hehe…  
-
Sebenarnya lagu ini bisa aja dirubah liriknya jadi gak terlalu galau. 
“Namaku cinta ketika kita bersama. Ku ganti dengan Rai ketika kita bercerai.”  Selesai. Bereslah lagu sampai di situ, gak usah diperpanjang dengan lirik yang merendahkan diri sendiri. Bisa juga dijadikan lagu dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dengan diakhiri dengan “… aku tanpamu butiran intan…”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar