Senin, 29 Oktober 2012

Bagaimana mencari jodoh?



Di tulisan ini aku mau share tentang jodoh. Iya, bagi para jomblo atau jomblowati mendengar kata jodoh bukan hanya sampai ditelinga tapi sampai hingga ke hati dan pikirannya. Akibatnya merubah ekspresinya 180 derajat, yang tadinya senang bisa langsung jadi bengong dengan pandangan kosong. #galau mode on.
Aku dapat sedikit pandangan mengenai jodoh dari asisten managerku. Beginilah ceritanya:
Orang tahu tentang jodoh sejak kecil, mungkin TK atau SD, hasil dari menonton televisi atau melihat hewan yang berpasangan (loh.. ). Mereka tentunya menyadari perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan itu tercermin dari kedua orang tuanya, yaitu ayah dan ibunya yang saling mengasihi. Saat SD, kita bisa suka sama seseorang. Kita pun putuskan bahwa itu jodoh kita.

Lingkungan SD biasanya lebih sempit, apalagi SD yang berada di desa, yang penduduknya itu-itu saja. Teman main sama dengan teman sekolah. Kemudian kita masuk ke SMP, nah disini kita bisa lebih ketemu banyak teman yang berasal dari SD yang berbeda. Apalagi jika SMPnya favorit, terkadang orang dari jauh bela-belain untuk sekolah disitu. Perkembangan hormon wanita saat SMP lebih cepat dibandingkan laki-laki.

Disini biasanya, wanita lebih tinggi-tinggi dibandingkan laki-laki. Rasa suka kepada lawan jenis lebih meningkat lagi, dan ini mungkin disebut dengan cinta monyet. Laki-laki mulai ingin menunjukkan kemampuannya dengan aktif di kegiatan sekolah, band, atau bidang olah-raga. Begitu juga dengan wanita juga lebih memperhatikan penampilannya.

Nah, disini kita bisa menganggap kita menemukan jodoh ketika bertemu dengan seseorang yang menggetarkan hati kita atau yang memberi perhatian lebih kepada kita. Ada yang berhasil meneruskan hubungan hingga SMA, ada juga yang mengakhirinya. 
-
Massa SMA adalah masa yang paling indah menurut lagu. Nah di sini, wanita sudah sangat matang sedangkan laki-laki menuju perkembangan yang sangat cepat baik secara fisik maupun pikiran. Umumnya disini laki-laki memiliki perkembangan intelejensi lebih cepat, sehingga dia bisa lebih kreatif mencari pasangannya hehe…  

Wanita SMA, telihat sangat matang dari segi fisik maupun biologis. Ini menjadikan lelaki yang secara umum bisanya suka akan keindahan merasa menemukan jodohnya. Hubungan mulai intens dengan sedikit komitmen untuk bersama. Main bareng, makan bareng, nonton bareng, sampe belajar bareng. Ikatan semakin kuat ketika kita benar-benar mengetahui karakter masing-masing. Massa SMA, murid-murid mulai membangun mimpinya serta cita-cita dan harapan kedepan.

Hasilnya, gak sedikit pasangan SMA yang terpisah jauh karena mereka kuliah di tempat yang berbeda. Long distance relationship, hubungan jarak jauh saat kuliah banyak dilakukan. Lingkungan SMA biasanya hanya terdiri dari ratusan orang saja disekitarnya. Tapi lingkungan kuliah terdiri dari ribuan orang dengan karakter yang berbeda-beda dan budaya yang berbeda-beda.

Kita bisa bertemu dengan banyak orang, di fakulatas, jurusan, teman kelas, atau teman organisasi. Disini sudah dipastikan wanita dan pria sudah sama-sama matang. Dan disini pula, bisa terlihat kedewasaan pikiran dan sikap pria maupun wanita. “Dalam tahap kuliah inilah, seharusnya kalian memanfaatkan untuk mencari jodoh..”.

Dimulai dari saling berteman, saling membantu, saling peduli, dan saling mengasihi. Mungkin beberapa orang hanya focus terhadap kuliahnya saja. Ini membuat kuliah serasa hambar karena seharusnya dalam kuliah kita harus bisa mengasah softskill kita juga, baik itu softskill kepemimpinan maupun softskill menemukan pasangan hehe… 
-
Kenapa tahap kuliah penting untuk mencari jodoh? karena, saat kerja nanti kita akan semakin sibuk terhadap pekerjaan kita. Apalagi jika lingkungan kerja terdiri dari sedikit orang, lebih banyak mesin-mesin, dan waktu kerja yang lama. Lingkungan kerja juga bisa membentuk pribadi kita menjadi orang yang berambisi terhadap karir.

Sebagian orang bisa melupakan kegalauannya dengan focus terhadap perkerjaannya, hingga akhirnya dia berada di posisi yang sangat tinggi. Banyak orang berfikir semakin kaya, karir bagus, dan jabatan tinggi, akan memudahkan kita mendapatkan jodoh. Mungkin ada benarnya. Tapi jika kita lihat kenyataan yang ada tidak seperti itu. Asisten Manager ku pernah ditolak saat kuliah dengan seseorang wanita.

 Wanita tersebut sangat ambisius mengejar karirnya hingga saat ini dia menjabat sebagai manager. Wanita tersebut berparas cantik dengan perawatan kecantikan yang mahal, modis, lekukan tubuh ideal, dan berambut lurus. Penghasilannya tinggi, sudah memiliki rumah, dan kendaraan. Usianya 37 tahun.

Sedangkan Asisten managerku sudah menikah di usia 26 tahun dan saat ini sudah memiliki istri dan dua orang anak. Saat reuni, mereka mengobrol. Dan Asisten managerku bertanya mengapa wanita tersebut belum berkeluarga. Ternyata wanita tersebut inginnya memiliki pasangan pria dengan tingkat kemapanan yang sama, dan berusia diatas 37 tahun.

 Dia tidak mau berhubungan dengan pria dibawah usianya, karena dia gak suka dianggap berhubungan dengan brondong. Asisten managerku pun menasehatinya bahwa pria yang berada di posisi tersebut tentunya jumlahnya sangat-sangat sedikit. Kalaupun ada, pria tersebut sudah beristri, atau duda. “Mau sampai kapan lagi kamu menunggu jodohmu?”, kata asisten managerku.

Akhirnya dia sadar bahwa semakin tinggi kita menginginkan jodoh yang sempurna maka semakin tidak ada keberadaannya. Setahun kemudian wanita tersebut menikah dengan seorang pria yang jauh dari kriteria yang dia jelaskan dengan usia dibawahnya. Asisten managerku pun tersenyum, dalam hati berkata, “Kamu dulu nolak aku sih.. hehe.. semoga kamu bahagia..” 
-
Pesan: Bagi yang sudah merasa menemukan jodoh maka pertahankanlah, bagi yang belum yakin dia jodohmu maka perhatikanlah dirinya lebih dalam, dan bagi yang belum menemukan jodoh maka berusahalah dan berdoa… 

1 komentar: