Minggu, 28 Oktober 2012

Jodoh yang Tertukar




Hari pertama aku kerja di rumah sakit aku melihat seseorang wanita yang duduk dan berjarak 10 m dari pandanganku. Wajahnya bersih, bermata asia timur dengan tatapan ramah, berkulit putih, dan bibirnya sangat manis. Aku tidak percaya wanita yang aku bayangkan selama ini terwujud padanya.

Aku sangat menikmati memperhatikannya secara diam-diam, aku ingin berkenalan dengannya, namun aku malu karena aku belum dapat momen yang tepat atau justru aku yang memang tidak bisa mencari momen yang tepat. Selama ini aku hidup dilingkungan agamis dan aktif di keorganisasian rohis sehingga aku sulit mengekspresikan diri terhadap lawan jenis.  
-
Hari kedua. Aku berada di tempat meeting untuk rapat kerja. Aku coba memperhatikan satu persatu orang yang ada disitu. Berharap dia ada diantaranya. Ternyata dia tidak ada disana. Kemana dia? Apakah dia hanya hayalanku kemarin?. Aku sulit membedakan kenyataan dan hayalan. Tapi setelah ku pikir mendalam, aku tak mungkin hanya menghayal. Satu jam dari jadwal rapat dimulai, dia datang dalam keadaan tergesa-gesa.

Dia langsung duduk tepat di sampingku. Jantungku berdetak dengan kencang saat itu. Dia berkata padaku, “Rapatnya udah lama mulai yah.. wah.. aku telat banget nih..”. Itulah pertama kali dia berbicara padaku dan itu terekam jelas di otakku. Aku pun beranikan diri berbicara padanya tentang alasan dia telat. Suasana pun mencair dan obrolan pun mengalir begitu saja. Aku pun jadi tahu namanya.

Dia bernama Emy. Aku jadi tahu latarbelakangnya dari dia kerja di perusahaan minyak walaupun baru lulus SMA sampai kuliahnya yang baru ia mulai saat ini. Di tengah percakapan dia berkata, “Kok aku gerah yah…”. Mendengar kalimat itu, entah kenapa aku segera membuka tas ku dan mengambil buku baru lalu menyobekkan covernya untuk digunakan sebagai kipas. “loh.. bukunya jadi rusak dong.. “ katanya. Aku menjawab, “ga apa-apa kok, santai aja.. “. Dalam hatiku berkata,”Aku akan melakukan apapun untuk menghilangkan segala kesulitanmu.”. Dia pun berterima kasih padaku.
-
Hari ke tiga. Sebelum jam kerja selesai dia menghampiriku dan berkata, “Mau engga, nganterin aku ke tempat kuliah.”. “Oh gak masalah.. “, jawabku dengan kalem. Padahal dalam hatiku “boleh banget… ini kesempatan yang aku tunggu, kalo bisa tiap hari deh.. hehe..”. Aku merasa melayang senang dan bahagia saat bersamanya. Bahkan ada kejadian yang tak bisa aku lupakan, yaitu ketika tangannya menyelusuri tangan kananku dari belakang. Dia ingin membantu memperbaiki kaca spion kanan motorku saat aku memboncenginya. #makin senang.
-
Hari ke empat. Di tengah obrolan aku dan dia. Dia menyatakan bahwa dia sudah bersuami. Aku merasa seperti tersambar petir dari unjung rambut hingga ujung kaki. Hatiku yang begitu merah menjadi biru tebal seperti terbentur cukup keras. Aku bagaikan patung dan kemudian dihancurkan menjadi pasir. Padahal ku kira dia adalah jodohku karena aku nyaman dan merasa cocok dengannya. Tuhan mengapa ini terjadi… dia baru menikah 4 bulan yang lalu.

Tapi seperti biasa setiap sore dia memintaku mengantarkannya. Aku pun tidak mau mengantarkannya, kecuali suaminya mengizinkan. Ternyata suaminya mengizinkannya, dan aku tidak percaya dengan mudah. Dia lantas menujukkan buktinya lewat BBMnya dan dia pun menelfon suaminya. Mengantarkannya jadi kebiasaanku. Aku mengantarkannya ke tempat kuliah dan bahkan aku mengantarkannya ke rumah mertuanya.

Aku sadar dia sudah bersuami, artinya dia sudah terikat secara hukum Negara dan agama. Tapi anehnya, semua itu tidak mengurangi perasaanku kepadanya. Bahkan hari demi hari kami semakin akrab. Karena saking akrabnya, Dia tidak segan minum dengan tempat minumku atau menggunakan sendok makanku.

Dia sering menceritakan keluhannya terhadap suaminya. Pernah suatu hari dia pulang dari kuliahnya larut malam. Dia langsung menghubungi aku dan meminta aku menjemputnya karena suaminya lebih memilih tidur ketimbang menjemputnya. 
-
Hari demi hari pun terlalui. Banyak kejadian yang aku pikir sedikit aneh. Aku sering membantunya menyelesaikan masalah komputer dan setelah selesai aku mengatakan padanya, “Magic kan.. “. Dia pun kaget dan berkata, “kok kamu kayak suamiku yah.. suka bilang kata itu..”. Dia pun menjelaskan tentang suaminya.

Ternyata suaminya pun lulusan jurusan IT sama sepertiku, karakternya hampir mirip dengan ku. Yang lebih aku kaget lagi adalah ketika dia meminjam buku bahasa inggrisku yang disitu tertera nama ibuku, dia bertanya, “Ini nama siapa..”. Aku menjawab, “Itu nama ibuku..”. Dia agak heran,“loh… kok sama yah dengan nama mertuaku..”.

Ada kata dari nama mertuanya yang sama dengan nama ibuku. Dari segi kesamaan yang ada antara aku dan suaminya ternyata ada nilai lebih aku. Ternyata hobiku itu sama dengan hobinya. Tuhan… Mungkinkah jodoh itu bisa tertukar???     

1 komentar:

  1. Walaupun ceritanya sedikit menyimpang dari aslinya tapi it's ok lah. great job...

    BalasHapus