Kamis, 02 Agustus 2012

TTDJ (Hati-hati di jalan)



2 Agustus 2012
-
Wow, 1 jam lagi mau berbuka puasa sedangkan saat itu saya masih ada di NF Pemda. Saya segera menandatangani absen pengajar, dan mata saya tertuju pada kotak infak harian. Saya pun memasukkan seribu rupiah (seharusnya sih lebih besar, karena selalu ada aja setan yang membisikan disaat sedekah, dengan alasan di dompet adanya cuma 50ribuan). 
-
Saya pun bergegas, sepertinya saat itu saya lupa baca basmallah ketika mulai mengendarai motor. Yang ada, selama perjalanan pulang adalah lari bergegas supaya saya bisa buka shaum tepat di rumah saya di katulampa. Inilah kebiasaan buruk saya, ketika rasanya hati senang karena mengingat seseorang, saya malah nyanyi disepanjang jalan. Malam hari sebelumnya entah kenapa saya mimpi nikah, gawat nih… apa memang dari lubuk hati yang paling dalam saya pengen buru-buru nikah. Padahal biasanya gak mimpi yang aneh-aneh kayak gitu. 
-
Entah kenapa, selama perjalanan otak saya terdengar terus lagu Air Supply - Goodbye. Oh.. iya, mungkin karena saya akan meninggalkan pekerjaan saya saat ini dan segala kenangan manisnya. Saya pun nyanyi selama perjalanan. Rasanya nyanyi di atas motor tuh lebih nikmat dibandingkan nyanyi di kamar mandi karena banyak orang yang merhatiin di jalan. Saya gak merasa malu terus memacu kendaraan saya hehe.. itung-itung nyanyi sambil lari..  
-
Saya bingung, apa pengaruh mimpi, atau pengaruh hormon, tiba-tiba saya terpikirkan seseorang dengan senyum yang manis (padahal seharusnya yang saya pikirkan saat itu adalah Sang Pencipta orang yang memiliki senyum manis tersebut). 
-
Keadaan saat itu agak macet di daerah keradenan. Saya memilih menyusul kendaraan lewat kiri karena di kanan saya harus melewati truk-truk yang besar dan kendaraan dari arah berlawanan. Namun, di jalur sebelah kiri banyak pasir hasil perbaikan jalan sehingga sangat licin. 
-
Saya berada di belakang angkot biru. Dan agak terjebak di sana. Saya melihat dari arah kiri angkot tersebut, motor-motor lain berjalan menyusul dengan lancar. Nah, ketika angkot itu bergerak, saya ambil kesempatan untuk mengambil arah kiri sambil melihat ke belakang. Eh ternyata mobil angkot tersebut hanya menggerakkan mobilnya beberapa cm saja. Ketika saya melihat ke depan, saya mengerem sekuat tenaga hingga bannya berhenti, tapi karena jalannya berpasir maka…. 
-
“Brakk,,” sayap, stang, dan kaki kiri saya menabrak bemper sebelah kiri mobil angkot tersebut. 
Saya pun segera beristigfar. Orang-orang memerhatikan saya. Saya langsung sadar, saya tidak mau cari kambing hitam, saya mengakui kesalahan saya. Saya berhentikan motor saya di pinggir jalan, sambil menatap dengan penuh penyesalan kepada supir angkot.
-
“Pa Maaf sekali, saya menabrak.” Saat itu wajah saya pucat, pias, seperti ikan mas yang akan di goreng.
-
“Hati-hati kalo naik motor…” kata supir angkot yang masih berada dalam kemudinya.
-
Saya merasa bersalah, oleh karena itu saya langsung memeriksa bagian belakang mobil angkot tersebut yang saya tabrak. Dan Alhamdulillahnya tidak apa-apa, lampu belakangnya dilindungi oleh besi (Teralis). Pantesan lutut saya terasa memar. 
-
“Belakang mobil saya tidak apa-apa?”, sopir angkot tidak beranjak dari kemudinya.
-
“Tidak apa-apa Pa..” 
-
“Iya hati-hati lain kali..” sopir angkot.
-
Subhanallah sekali, mungkin ini karena sedekah sebelum berangkat tadi. Sopir ini gak seperti sopir biasanya yang gampang marah-marah dan meminta ganti rugi. Padahal saya lihat angkot mobil ini hanya berisi satu penumpang di depan. Kejadian seperti ini sudah saya alami sebelumnya. Dan lagi-lagi karena sedekah dan pertolongan dari Allah saya selamat. 
-
Pelajaran yang berharga hari ini adalah jika berkendara janganlah berfikiran yang engga-engga. Lebih baik banyak mengingat Allah karena kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Selalu ucapkan doa sebelum berkendara, lebih baik banyak bersholawat dari pada bernyanyi sepanjang jalan.  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar