Minggu, 19 Agustus 2012

Rokok OK?


Ngumpul bareng temen-temen kelas dulu dan sudah lama tidak bertemu sangat menyenangkan. Kita bernostalgia dan mengingat masa kelam yang indah di masa lalu hehe.. Tak ada rasa sedih sama sekali, bahkan seluruhnya menjadi guyonan. Kami merasa bahwa waktu cepat berlalu. Banyak yang sudah menikah dan ada beberapa yang sudah memiliki anak yang lucu-lucu. Setiap orang memiliki lingkungan pergaulan yang berbeda-beda dan tentunya ada kebiasaan yang berbeda juga. Yup, saya terbiasa berada di lingkungan religius sehingga sejauh-jauhnya saya melangkah tetap saja masih di batas yang aman dan menentramkan. Masalah merokok saat kumpul dengan teman-teman tidak membuat saya lantas menjauhkan mereka. Karena saya terbiasa hidup di lingkungan perokok, kedua orang tua saya dan saudara-saudara saya pun perokok. Saya pun bisa dibilang perokok, yaitu perokok pasif. Dan itu gak masalah bagi saya.
-
Pada masa remaja dulu saya berfikir bahwa merokok itu sepertinya bisa membuat diri kita lebih jantan, lebih dekat dengan teman, lebih gaul, lebih kreatif, dan bisa menyelesaikan berbagai masalah seperti ditunjukkan di iklan-iklan. Jujur aja saya pun penasaran dan saya sudah merasakan berbagai jenis rokok, tapi sungguh saya tidak merasakan kenikmatannya dan saya tidak merasa kecanduan sama sekali. Kata orang jangan coba sekali-kali morokok nanti ketagihan, dan ternyata kata-kata itu tidak berlaku untuk saya. Kebanyakan orang merupakan perokok berat yang katanya merasa bibir dan lidah gak enak klo misalnya gak ngerokok sehari aja bahkan ada yang bilang mending rokok dari pada makan (Ironis). Adapun orang yang merokok jika dia ada dalam masalah yang sangat berat. Dan dia merasa dengan merokok dirinya akan merasa tenang. Tapi menurut saya, hanya dengan mengingat Tuhan kita bisa menjadi tenang. 
-
Jika merokok itu berguna bagi saya, mungkin saya akan melakukannya dan saya akan membeli sebungkus rokok secara rutin. Saya bukan orang yang anti terhadap rokok, dan saya tidak membenci perokok selama saya tidak merasa terganggu. Itu adalah pilihan mereka masing-masing. Saya pernah jadi orang yang anti merokok dan perokok, saya mulai dengan menasehati orang tua saya agar tidak merokok tapi alhasil saya menjadi seolah orang yang berduhaka dan menjadikan hubungan yang kurang harmonis. Tapi saya tutup perdebatan saat itu dengan kalimat bahwa saya melakukan semua itu karena saya sayang mereka dan peduli terhadap kesehatan mereka dan saya bersedia disuruh apa saja, selain disuruh membeli rokok. Dan sampai saat ini saya tidak pernah menasehati orang tua saya lagi untuk tidak merokok tapi saya ganti dengan kurangi intensitas merokok. Oleh karena itu, saat ini saya bersikap netral terhadap rokok tapi tidak juga menganjurkan untuk merokok.
-
Bagaimana dengan fatwa haram terhadap merokok?. Wah berat nih. Saya hanya bisa memberi gambaran. Industri rokok ini menyangkut kehidupan para petani tembakau, pegawai industri, distributor, penjual, dan konsumen. Selain itu, beberapa perusahaan rokok membiayai perbankan, sebagai sponsor olahraga yang mengharumkan Negara, pendidikan, bahkan yayasan sosial. Di sisi lain, menurut penelitan rokok dapat menyebabkan penyakit jantung, paru-paru, gangguan kehamilan, dan impotensi. Silahkan simpulkan sendiri hehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar