Sabtu, 04 Agustus 2012

Bunga yang Tak Bisa Ku Sentuh



Ada temen saya saat TPB, hanya dengan melihat wajah saya, dia bilang, “Tampang lu pujangga”. Saya pun kaget, “Dari mana pujangganya?”. Dia, “Keliatanlah dari tampangnya?”. Saya pun tambah bingung, apa karena wajah saya seperti kertas, atau pulpen, atau pensil, atau bahkan tinta. Setelah saya googling pun, pujangga-pujangga mukanya bervariasi semua, ga ada yang bisa disamain. Pendapat temen saya itu sangat-sangat berlebihan. Tapi emang sih, terkadang saya suka buat puisi, saya tulis, lalu saya buang karena terkadang hasil karya itu menunjukkan kelemahan saya. Masa, laki-laki buat puisi cengeng, engga banget dah…
-
Ketika sedang beres-beres kertas bekas, eh ternyata saya menemukan puisi yang pernah saya tulis. Sekali baca puisi itu memberikan Flashback yang sangat jelas. Sampe segitunya dulu saya buat puisi yah.. Ok, kayaknya seru kalau puisi saya, saya pajang di blog ini. Chekidot…
-
-
Bunga yang Tak Bisa Ku Sentuh
-
Kau, Bunga yang tak bisa ku sentuh
Seberat apapun aku butuh
Karena ku hanya ingin kau utuh
Tapi kau biarkan lebah itu
Menyatu hingga jadi setubuh
Dengan begitu kau rasa teduh?
Tenanglah aku bukanlah musuh
Walauku mengintaimu dari jauh
Aku bisa lebih dari patuh
Sebab kau buat hatiku jatuh
Tidak ku sangka diriku luluh
Kau bisa merubah sikap lusuh
Prinsip aku hampir runtuh
Namun ku sadar diriku kumuh
Ku sembunyi di tengah kerumuh
Semakin dicari, makin keruh
Kau akan jumpa ku di langit tujuh

-
Itulah puisi yang saya pernah buat, dan sangat terasa perasaan saya pada waktu itu. hiks..hiks.. (Loh kok nangis...). "Engga nangis kok.. " (mata berkaca-kaca).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar