Minggu, 11 Maret 2012

Kebaikan yang menyelamatkan


20-1-2012
Hari ini saya jumatan di mesjid PMI. Saya berada di shaf ke dua orang kedua dari kiri. Karena masih 15 menit lagi kutbah. Saya berniat menunggu dengan solat tahiyatul masjid dan membaca surat yasin. Di depan saya ada bapak, bapak yang kakinya pincang. Saya menganggap pincang karena disampingnya terdapat tongkat. Surat yasin berada di depan bapak tersebut. Saya meminta tolong kepada dia untuk mengambilkannya.
Saya pun menyentuh bapak tersebut. Dia langsung merespon dengan memberikan tangan kanannya.
“Maaf, Pa tolong ambilkan surat yasinnya”. Surat yasin diletakan berdiri, bersandar dengan tembok. 
Untuk mengambil surat yasin yang berada di depannya saja bapak itu merasa sangat kesulitan dan kesakitan. Karena harus menggeser sedikit kakinya. Dia pun berhasil memberikan surat yasin itu ke saya, dan saya sampaikan terima kasih sambil bersalaman dengan dia.
Sebelum saya membaca yasin saya mendoakan dalam hati kepada bapak tersebut semoga kakinya cepat sembuh. Setelah saya baca yasin tiba-tiba ada seorang pria muda. Menyentuh pundak saya, seakan memberi isyarat untuk menggeser tubuh saya. Saya tidak bisa menggeser tubuh saya ke kiri karena di ada bapak lain duduk di situ. Oleh karena itu, saya geser tubuh saya ke sedikit ke belakang tepat diantara shaf ke tiga dan kedua. Anak muda itu pun solat sunah di depan saya. Sehingga shaf saya pun dikuasai oleh orang muda tersebut. Ada rasa sedikit kesal karena orang yang terlambat untuk solat menginginkan shaf di depan. Saya langsung teringat dengan taffassahu fil majalis. Akhirnya saya sabar, karena saya yakin akan dapat shaf ketika solat dimulai. Entah mengapa Jumat itu, yang biasanya saya ngantuk jadi gak ngantuk. Khotib pun naik ke mimbar mengucapkan salam. Ternyata yang berlaku sebagai muazin adalah orang yang berada di shaf pertama yang tidak jauh dari saya duduk. Muazin pun meninggalkan tempatnya untuk azan. Seorang bapak di depan saya mempersilahkan saya mengisi shaf paling depan tersebut. Karena biasanya Muazin setelah azan berada di belakang dekat dengan Imam.
Setelah azan, saya mendengarkan khutbah. Saya tidak melihat siapa yang khutbah. Tapi saya suka suaranya karena yang berkhutbah dengan semangat dan menyentuh hati saya. Dia mengingatkan kita untuk cinta kepada rasulullah. Karena pada zaman sebelum salahuddin al ayubi orang-orang mulai melupakan rasulullah. Salahudin al ayubi pun bertindak dengan merayakan hari maulid Nabi. Bukan acaranya yang penting, tapi kecintaan kita kepada rasulullah yang penting. Perayaan mauled itu untuk mengingatkan kita kepada sejarah perjuangan rasulullah serta sifat turi tauladannya.
Mata saya pun berkaca-kaca. Kenapa ketika saya bingung untuk melakukan sesuatu saya tidak berfikir untuk kembali kepada sifat Rasulullah. Padahal Al-Quran menjelaskan bahwa Rasulullah merupakan contoh atau parameter kita dalam bersikap.
Aku pun menyelesaikan solat jumat. Aku menunggu kesempatan untuk memasukkan infak ke dalam koropak. Karena infak yang baik adalah infak yang tidak diketahui. Setelah sepi aku masukkan uang sebesar 5rb rupiah.
Karena harus mengajar sekitar jam 2 siang di cibinong aku pun segera ke tempat makan yang berada di samping laboratorium terpadu. Aku makan memesan soto ayam dengan harga 8rb. Setelah makan aku langsung bergegas mengambil tas dan berpamitan dengan peneliti di sana. Sesampainya di pintu keluar LT aku pun menyadari bahwa tasku lebih ringan dari biasanya. Oh.. ternyata laptopku ketinggalan. Aku pun kembali lagi ke laboratorium untuk mengambil laptopku.
Arah jalan
Aku ambil motor, memberikan karcis parker kepada satpam. Sampailah aku di pertigaan depan IPB BS. Aku lihat kendaraan macet di depanku. Aku menengok ke kiri. Ternyata lampu merah. Motorku tidak cukup untuk keluar melintasi deretan macet mobil tersebut. Dan tak lama lampu hijau menyala. Aku tunggu hingga lampu merah lagi agar aku dapat kesempatan untuk melintasi deretan mobil, menyebrang menuju jalan ke arah sempur.




Kira-kira gambarannnya seperti diatas. Saya ingin menyebrang ke sisi jalan ke arah kanan. Lampu merah pun kembali menyala. Saya piker. Bila lampu merah menyala kendaraan tidak berambisi untuk meningkatkan kecepatannya. Saya member tanda kepada bisa di depan saya serta kijang inova di depan saya. Saya pun tersenyum kepada bisa tersebut. Di tengah jalan tersebut tanpa saya duga adal motor yang melaju kencang sekali. Saya pun tidak bisa menghindari tabrakan.  Untungnya saya tidak terjatuh, dan tabrakan hanya mengenai ban depan motor saya. Hanya saja bapak yang menabrak saya sedikit terpeleset. Di pun marah dengan memegang kerah jaket saya. Muka saya pun pucat. Dan saya bilang untuk  menyelesaikan masalah kita parker dulu motor kita. Saya letakkan motor saya diantara kedua jalan sampai saya lupa menarik kunci saya keluar. Saya beristigfar dan segera menghampiri bapak tersebut. Saya pegang pundaknya, saya raih tangannya, dengan ekspresi sangat bersalah, saya meminta maaf. Saya rasa saya tidak sepenuhnya salah. Tapi dalam kondisi seperti ini kita harus mengalah demi kedamain.
“Maaf, Pa. Saya tidak menyangka ada bapak diantara bisa dan mobil kijang. Seharusnya saya melihat ke kanan sebelum saya melewati jalan. Bapak tidak apa-apa?”
“Ga apa-apa, saya  cuma kaget saja. Dan lecet sedikit dibagian kaki. Kamu yang salah. Lain kali hati-hati”. Ekspresi si bapak sungguh berbeda saat dia menarik kerah jaket saya. Kali ini dia berbicara sambil tersenyum. Subhanallah apa ini karena keutamaan sedekah.
“Iya Pa, motornya gak apa-apa pak?”.
“Gak apa-apa, motor kamu taruh dimana? Segera ambil motor kamu. Nanti di curi orang”. Subhanallah si Bapak malah menghawatirkan motor saya.
“Oh iya, terima kasih pak” Segera saya ingat kunci tertinggal di motor saya. Saya pun segera menyebrang jalan. Alhamdulillah motor saya masih ada.
Saya pun melihat kembali ke arah bapak tersebut dan ternyata bapak tersebut sudah kembali jalan. Semenjak saat itu, saya piker bahwa yang punya motor sangat beresiko mengalami tabrakan. Entah itu akibat kurang mahir mengendalikan motor, cuaca buruk, atau tertabrak motor atau mobil lain. Resiko tabrakan berbanding lurus dengan kecepatan yang digunakan pengendara, berbanding terbalik dengan kemahiran mengendalikan motor, serta kesehatan motor, serta intensitas kehati-hatian dan doa. So, awalnya pengen motor ninja 250cc, tapi sekarang gak pengen. Awalnya mengendarai motor sering diatas 60 km/jam, tapi sekarang lebih mengurangi kecepatan demi keselamatan. Terima kasih  Ya Allah untuk hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar