Rabu, 28 Maret 2012

Maling Tak Diundang




Beberapa bulan yang lalu rumah saya dimasuki oleh maling. Dia menjugil jendela rumah saya. (Lihat gambar di bawah ini)


Jendela rumah saya berukuran besar sehingga dia leluasa untuk masuk. Entah berapa orang yang masuk, yang jelas setelah maling itu beraksi adik saya kehilangan hp dan saya kehilangan jaket kulit saya yang dijemur di halaman. Saya bersyukur karena keluarga saya masih diberi keselamatan. Adik saya mencoba menghubungi no.nya melalui hp saya, kira-kira seperti ini percakapannya…

“tut…tut…tut….”… “Clek” suara telpon yang diangkat..

Adik, “Halo ini siapa yah?”

“….”

“Dimana nih…”, kembali adik saya menanyakan.

Pencuri, “hahaha… (dimana kita…?[berbisik ke temennya]). … Sulawesi.. haha..haha… “

“tut….” Telepon itu pun ditutup.

Saya hubungi berkali-kali gak diangkat, terkadang di tolak. Tapi no.nya masih aktif.
Saya pun sms ke orang tersebut dengan emosi yang sangat tinggi. Yang isinya:
Maaf siapa ini? Tolong kembalikan barang-barang yang kamu curi, jika tidak aku sumpahin kalian masuk neraka jahanam selama-lamanya…

Dan ternyata sms saya tidak berarti apa-apa. Yang ada no.nya jadi tidak aktif. Jangan-jangan mereka sudah masuk ke neraka bersamaan dengan sms yang mereka terima. Saya rasa tidak mungkin. Percuma saja, mengutuk seorang penjahat, dia tidak akan terpengaruh sedikitpun, sama halnya dengan mengutuk para koruptor yang berbohong setelah disumpah dengan Al-Quran. Setelah beberapa lama, saya pun mengikhlaskan semuanya, karena percuma saja dendam, semuanya tidak akan kembali. Yang ada adalah kita semakin cinta akan harta, dan pikiran kita tersita untuk memikirkan apa yang hilang dari kita bukan apa yang masih kita miliki. Kita doakan saja semoga para pencuri itu segera bertaubat sehingga tidak merugikan orang lain. Kita pun tidak tahu latar belakang pencuri itu, bisa jadi dia terpaksa mencuri karena desakan ekonomi, untuk mengobati anaknya atau orang tua yang sakit. Begitulah cara saya berfikiran positif untuk mengikhlaskan semuanya. Bagaimana kita bisa masuk surga bila masih menyimpan rasa dendam.

Beberapa tetangga saya pun kehilangan barang-barangnya. Kami pun bersyukur karena kerugian yang kami dapatkan tidak seberat yang di derita tetangga kami. 

Saat itu pukul 22.00. Kami belum tidur karena sedang menonton box office di trans tv. Saya melihat ke arah ruang tamu ada sorotan senter yang menembus jendela menuju dinding ruang tamu. Sorotan sinar tersebut menari-nari di dinding seolah ingin bermain dengan kami. Kami pun keluar rumah dan melihat ke sekeliling. Di depan rumah sangat gelap. Jadi kami tidak bisa melihat apapun kecuali pepohonan dan semak-semak. Saya berusaha melempar batu ke arah manapun. Tapi saya takut bila saya menghampirinya, ternyata dia membawa senjata tajam. Oleh karena itu, saya minta bantuan para peronda yang berani. Mereka memeriksanya, dan ternyata nihil. Hasilnya tidak ada orang. Keluarga kami pun diteror kembali dengan terciumnya bau menyan di rumah kami. Entah siapa yang membakar menyan. Apa mereka mempunyai ilmu sirep, karena Bapa, Ibu dan adik saya mengantuk padahal saat itu baru pukul 21.00. Saya pun sempat mengantuk tapi saya segera sadar dan terciumlah bau menyan tersebut. Saya pun menyadarkan semuanya. Dan kami pun tidak tidur sampai pagi. 

Akibat kejadian tersebut grup ronda semakin meningkatkan pengamanannya. Dan hasilnya ditemukan seseorang yang kedapatan mencuri buah. Kampung kami, memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi. Ketika mengetahui bahwa maling tersebut masih berasal dari kampung kami, kami pun dengan lembut mengintrogasinya. Dia tidak mengakuinya, yang dia katakan adalah dia hanya mencuri buah. Kami pun memanggil polisi, dan dia dibawa ke kantor polisi. Polisi mengintrogasinya, tapi tetap dia bersikukuh, bahwa dia hanya mencuri buah, karena tidak ada bukti yang kuat dia mencuri barang-barang lain. Maka dia hanya di tahan beberapa hari. Dia pun bebas. Dan tak lama, dia ketahuan mencuri lagi. Akhirnya, kampung kami mengusir dia dan keluarganya, serta tidak akan memaafkan bila dia sampai terlihat di kampung kami lagi. Setelah kejadian itu, amanlah kampong kami.

Beberapa bulan setelah itu, ronda sudah tidak dilakukan lagi, penyebabnya adalah kesibukan, serta pos ronda yang digusur oleh pemilik tanah untuk dijadikan kontrakkan. 

Tiga hari yang lalu, saya kaget karena banyaknya miscall, dan sms dari anggota keluarga saya. Maklum ketika saya mengajar saya silent hp saya. Jadi saya baru menyadari semuanya saat sore hari. Isi SMS-nya menanyakan apakah laptop saya ada. Karena ternyata maling kembali beraksi dengan menjugil jendela lain di ruang tamu. Untungnya, keberadaan laptop selalu saya sembunyikan saat tidur. Jadi laptop saya aman.
Malam itu, Ibu saya tidur di ruang tv yang letaknya sebelahan dengan ruang tamu. Untungnya tasnya dia masukkan ke dalam selimutnya. Taukah kalian  apa yang maling itu ambil? Dia mengambil kunci rumah kami. Ini menjadikan sebuah terror yang luar biasa. Dia ingin menunjukkan, dia ingin kembali ke rumah. Setelah kami menyadari kunci rumah hilang maka kami semua mengganti blok kunci rumah kami. 

Ternyata sehari setelah kejadian itu, ada keluarga di kampung sebelah yang dirampok oleh 5 orang yang bersenjatakan golok. Pemilik rumah pingsan dan uang yayasan diambil oleh perampok.
Keluaga kami merasa tercekam. Perkiraan saya, maling yang masuk ke rumah saya ada kaitannya dengan perampokan tersebut. Saya semakin takut jika maling yang mengambil kunci tersebut anggota perampok yang sedang melakukan survey, dan melakukan planning (rencana) untuk melakukan perampokan berikutnya di rumah saya.

Semenjak itu, tidur saya menjadi tidak nyenyak. Tiap satu jam saya bangun. Suara sedikit saja bisa membangunkan saya. Pendengaran saya semakin sensitive. Bahkan saking sensitifnya, saya bisa mendengar suara langkah kaki semut-semut yang sedang berjalan beriringan (Lebay dikit ah...). Benar-benar saya tidak bisa tidur waktu itu karena kecemasan saya. Saya pun jadi ingat, sebuah ayat "Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang". Oleh karena itu, saya membaca Qur'an sampai saya lelah sekali sekaligus untuk menunjukkan kepada maling tersebut keterjagaan saya. Ibu dan bapa saya pun tidur di ruang tamu. Dan setiap pintu dipasang alarm… gambar bisa di lihat di bawah.



Sayangnya di keluarga kami gak ada yang ahli elektronik untuk membuat alarm yang canggih, jadi kami gunakan alarm konvensional dengan menaruh panci, ompreng, bahkan penggorengan yang terkait di pintu. Hehe… Ketika ada orang yang menggerakan pegangan pintu ke bawah, penggorengan jatuh lalu terjadi tumbukkan antara penggorengan dengan lantai sehingga menghasilkan suara beberapa desibel yang bisa membangunkan kami sekeluarga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar