Jumat, 22 Juli 2011

Gara-Gara 1000 Bisa Bikin Gak Enak hati




Aku sangat lelah karena semalam begadang di Laboratorium Terpadu (LT) untuk menyelesaikan penelitan. Aku inapkan motorku di parkiran IPB, disamping LT. Karcis parkir terdiri dari 2 jenis, yaitu karcis pegawai/mahasiswa IPB dengan biaya 1000 sekali parkir dan karcis untuk umum dengan biaya 2000 sekali pakai. Orang-orang yang bekerja dekat dengan lokasi parkir itu atau orang yang akan berbelanja di Botani Square (Boqer) lebih memilih parkir di situ karena dengan biaya 2000 berlaku untuk parkir seharian. Parkiran Boqer membebankan biaya parkir berdasarkan lamanya parker. Setiap penambahan 1 jam dikenakan biaya 1000 dan seterusnya. Akibatnya lahan parker IPB dijejali oleh ratusan motor. Mahasiswa/pegawai IPB sendiri sulit untuk memarkirkan motornya, bahkan terkadang satpam kurang mempedulikan kesulitan  orang yang memarkir motornya karena mereka lebih sering menghabiskan waktu di pos dibandingkan berkeliling memperhatikan orang yang akan memarkir motornya. Sebagai contoh, aku pernah lihat ibu yang terjepit diantara 2 motor, badannya tertiban motor sehingga dia sulit bergerak. Aku pun segera menolongnya. Lalu pertanyaannya, dimana keberadaan satpam saat itu?

Kita masuk ke inti kejadiannya sekarang. Saya memberikan karcis kemarin kepada satpam ditambah dengan uang 2000 karena motor saya berada di parkiran tersebut dari kemarin. Oh iya, saya lupa menjelaskan. Adapun karcis inap, yaitu berharga 3000 sekali menginap. Begini pembicaraan saya dengan satpam.

Saya(agak lelah dan mengantuk), “Mas ini karcisnya, Oh iya,,, Saya tambah 2000 karena menginap yah… hehe..” (Sambil tersenyum)

Satpam,  “Kurang seribu Mas.”

Yang jadi masalah adalah ekspresinya yang kayak rentenir yang nagih utang ke orang yang udah berbulan-bulan gak bayar. Ga ada senyum-senyumnya sama sekali. Harusnya sih bilang, “Maaf Mas Kurang seribu rupiah, hehe…(sambil tersenyum)” 

Saya (rada gak enak hati), “Ya udah sih, kurang seribu doang”

Saya kasih uang 5000 dan mengantongi kembali yang 2000.

Satpam (malah nambahin omongan lagi dengan ekspresi yang sama), “Bukan begitu Mas, Mas kemaren niatnya apa? Klo karcis nginap beda lagi, Nih…(sambil nunjukin karcis baru), Bla…Bla…Bla..”

Biasanya gak masalah kayak gini. Dan saya pun tidak tahu ternyata ada karcis inap baru, biasanya karcis biasa yang diberi tanda “inap” (terlihat di gambar).  



Satpam ini gitu banget yah,, komunikasinya gak ngenakin, atau mungkin kurang tidur juga. Daripada tambah emosi lebih baik saya tinggalin aja nih satpam. 

“Breng….” (saya tarik gas motor saya)

Satpam, ”Kembaliannya Mas..”

Saya (masih gak enak hati), “Ga usah, makasih….” 

Untungnya rasa ga enak dihati cuma berlangsung 10 menit selama perjalanan menuju rumah. Saya hilangkan rasa emosi dengan cara berfikir bahwa saya hidup lebih beruntung dari sapam itu. Betapa bodohnya saya bila terus emosi gara-gara 1000 rupiah. Saya pun instrospeksi diri. Mungkin kelelahan saya juga yang menjadikan saya lebih sensitive dan mudah emosi gara-gara hal yang sepele. Tidak perlu mencari siapa yang salah. Tapi yang menang adalah yang pertama kali memaafkan dan melupakannya hehe…



Adapun kejadian lain, gara-gara 1000 bisa bikin gak enak hati. Waktu itu, saya akan mengambil uang di ATM suatu Bank. Ternyata ATMnya sedang dalam masalah, saya pun tidak bisa mengambil uang. Saya pikir, gak usah bayar parkir karena saya hanya sebentar memarkirkan motor. Tapi saya kasihan ke tukang parkir, saya cari 500 di kantong saya hehe.. Eh ternyata tidak ada,,, Hanya seribuan yang ada di kantong. Ok lah, memberikan 1000 ga akan mengurangi kekayaan saya. Hehe…

Saya kasih tukang parker tersebut 1000 rupiah. Alangkah kagetnya saya ketika tukang parkir berkata, “Maaf, Mas kurang 1000”. Ngeekkk… Hati saya barulah berubah yang tadinya iba jadi kesel ama tukang parkir tersebut. Enak banget, cuma beberapa detik, dia bisa mendapat 2000. Saya tidak berkata selain, “Makasih, Pa (rada gak enak hati). 

Kejadian-kejadian ini menjadi lucu bila diingat sekarang, hehe… oleh karena itu saya abadikan di blog saya.
Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini, yaitu orang yang lelah biasanya sensitive dan gampang terpancing emosinya (termasuk saya hehe..), emosi si A + emosi si B hanya bisa mengakibatkan permusuhan, emosi hanya bisa hilang dengan berfikiran positif, hentikan komunikasi dalam keadaan emosi, dan ternyata keikhlasan membutuhkan waktu juga hehe…. Bersyukur dan tidak terlalu memikirkan materi, karena kebahagiaan hati, dan Iman adalah harta yang tak ternilai…

2 komentar:

  1. huahahahah itu gambar duit seribunyaaa bisa bgt ada "angry"nya gitu.

    aku jg prnh punya pngalaman gregetan gara" seribu mas. tp panjang, jd ga di share ah huehehehehehe

    BalasHapus
  2. biasa di edit dulu ama sotoshop hehe...
    memang ujian keikhlasan itu selalu ada dalam hidup ini hehe...

    BalasHapus