Minggu, 20 Maret 2011

Jujur yang semakin terkikis



Ada yang tidak biasa saat saya mengawas anak kelas 6 SD ketika try out UN di NF Pemda. Ada sesosok bocah kurus berkacamata dengan memakai jam tangan yang kebesaran, yang menjadi perhatian saya. Masuk kelas dengan mengucapkan salam merupakan kebiasaan baginya. Tidak hanya itu, Dia mengerjakan soal yang sulit dengan penuh percaya diri. Yang berbeda dengan anak yang lain adalah sebelum membaca soal dia ucapkan "Ya, Allah bantulah hambamu ini". Kalimat itu, dia ulang di setiap nomor soal. Wajahnya ceria ketika menemukan jawaban sambil mengucapkan "Alhamdulillah". Suasana mengawas di kelas 6 SD lebih baik daripada mengawas di kelas smp dan sma. Di kelas 6 SD, mereka bersaing secara fair bahkan ingin saling unggul satu sama lain. 

Jika di pikir-pikir. Semakin dewasa, sikap optimis dan kejujuran yang dimiliki seseorang semakin memudar Biasanya orang yang melihat soal yang susah mengucapkan hal-hal yang negatif seperti "Mampus Gw", "Mati Gw", atau "Pasrahlah Gw", sebelum berusaha maksimal mengerjakannya. Sebenarnya, takut juga jika Allah mendengar dan langsung mengabulkan perkataan itu.
Jalan pintas pun dilakukan dengan menanyakan soal atau mencontek saat ujian. Padahal jawaban tersebut belum tentu benar. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan sikap ketidakjujuran semakin berkembang. Semakin dewasa semakin sedikit orang yang jujur. Orang yang mempertahankan kejujurannya biasanya di cemooh pelit, atau tidak setia kawan. Inilah derita orang yang jujur, ketika dia tidak bisa mengerjakan soal, teman yang lain lebih memilih mencontek/ bekerja sama saat ujian. Hasilnya orang yang jujur tersebut mendapatkan nilai yang paling rendah dari yang lain, sedangkan yang lain tertawa gembira dan bangga terhadap ketidakjujurannya.

Rasa perih yang orang jujur rasakan ketika dia gagal merupakan pelajaran yang sangat berharga dan selalu dia ingat. Sehingga terbentuk pribadi yang selalu memperbaiki kesalahannya. Orang yang jujur lebih di cintai oleh Allah, sehingga doanya akan mudah dikabulkan bahkan hidupnya akan menjadi tenang. Orang lain akan mudah percaya terhadap orang yang jujur sehingga rezekinya akan banyak dan berkah.

Berbeda dengan orang yang terbiasa tidak jujur. Orang tersebut akan tergantung dengan temannya atau kelompoknya. Walaupun dia senang telah melewati masalahnya lewat ketidakjujuran, sesungguhnya masalah lain akan mereka hadapi lagi. Orang tersebut terbiasa dengan jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Hasilnya semakin lama dia tidak menyadari bahwa dirinya jauh dari sikap kebaikan. Orang lain akan merasa dirugiakan selanjutnya akan dikucilkan di masyarakat.

OK, pilih mana? Jujur atau Tidak Jujur?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar